The Sky is High

It's just a box of pieces of a puzzle about a small circle of friends. It's about the lives, the loves, and the hopes. One by one, part by part. Hung up in the sky along with prayers. Until each of them can fly higher by itself. The Sky the Rain the Rainbow the Sun the Moon. All are talking in their own way. Carving their small footsteps in the history of time. And now each of them can really fly higher by itself, and leave this house one by one...



“Pikir donk, Yang!!!”

“Pake logika donk!!!”

“Ga wajar tau gak!!!”

“Kamu tuh ga punya hati!!!”


Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam benakku. Mengusik tenangku. Mengacaukan pikirku, hatiku. Muak. Muak mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya, merasuk dalam telinga dan banakku, menjelajah hingga menggerogoti hatiku. Entah sudah berapa kali kata-kata itu menghujam telingaku, pikiranku, hatiku. Entah sudah berapa lama aku menahan ketersinggungan egoku.


Kini ku sampai pada klimaksku. Aku meledak. Kuputuskan untuk tidak lagi bertahan dalam sakit hatiku ini. Sakit hati akan segala hina yang ia pernah dan sering lontarkan padaku. Aku putuskan untuk tidak lagi mengeluarkan air mata atas segala bentak yang terlontar dari mulutnya. Bentaknya yang kian lama membuat hatiku semakin ciut untuk sekedar berbicara menyuarakan isi pikiran dan hatiku. Menyesakkan dadaku dan memaksaku untuk menerima kembali luka yang ia buat.


Aku meledak. Aku meneriakinya. Ku keluarkan segala uneg yang mengganjal dalam hatiku selama ini. Ku buat ia diam untuk mendengarku, mendengar isi pikiranku, mendengar isi hatiku. Kuungkap segala sakit hati yang kuderita karenanya. Aku menjerit. Aku menangis. Bahkan aku tertawa. Tertawa dengan air mata yang terus mengalir dari mataku. Air mata yang tak mampu kubendung. Gila. Ya… Aku menjadi gila karenanya. Ku ekspresikan segala perih hatiku hingga aku tak tahu lagi batasan waras dan gilaku, sadar dan tak sadarku. Aku pun tak peduli dengan itu. Yang aku mau hanyalah ia tau apa yang selama ini tersimpan dalam diamku, luka dalam hatiku, muak akan kata-katanya yang menggebrak jiwaku.


“Istighfar, Yang…”


Ia berbicara dengan suaranya yang bergetar. Nadanya lembut mengajak, bahkan terdengar sedikit memelas. Kasihankah ia padaku? Sadarkah ia akan sakit yang tengah kucoba buka untuk ia lihat? Ajaknya dan pikirku tadi tak cukup menenangkanku.


“Waktu kamu bentak aku dengan kata-kata itu, apa kamu istighfar? Hah? Sekarang, kamu aja yang istighfar!!!” balasku dengan nada yang tak kunjung tenang.


Sayup kudengar ia istighfar dibalik telepon genggamnya. Nadanya semakin lemah dan bergetar. Menangis. Ya.. Ia menangis entah kenapa. Menangiskah ia karena terpuruknya keadaanku? Atau karena ia tengah menyadari perbuatannya kepadaku? Menyesalkah ia akan keadaanku?


Selanjutnya… Ia hanya diam mendengar ocehku. Oceh tak jelasku. Masih dengan sakit yang kubuka untuk ia lihat.



-31052009, 08:06pm-


”Tadi Mama marah-marah, katanya kamu dilarang datang ke sini. Aku juga tidak boleh lagi nginap di sana.”

Sejak awal kita sudah tahu ini akan terjadi, kan, Sayang? Sejak dulu kita sudah pernah setengah bercanda bahwa akan ada masa di mana aku akan dilarang datang ke rumahmu. Itulah mengapa jantungku tidak berpacu lebih cepat ketika kamu meneleponku pagi ini. Tidak seperti kamu meneleponku beberapa malam yang lalu untuk mengatakan bahwa keluarga kamu sudah curiga.


”Memang dia siapanya kamu?”


Memang benar, Sayang, aku bukan siapa-siapa, dalam artian bahwa adalah wajar jika orang-orang bertanya dan bergunjing mengapa kita selalu bersama. We started it out as a friend, remember? And friends visit and stay at each other place once in a while. Bukan nyaris setiap minggu, bahkan hari, selama hampir sepuluh bulan mereka saling mengenal. Bahkan sahabat terdekatmu pun tidak seperti itu, right? Jadi, aku mengerti jika pembicaraan beredar di mana-mana.


Seharusnya kita memang tidak membawa semua ini ke lingkungan keluarga kamu. Akan lebih baik jika kata dan bisik hanya mengalir di balik punggung kita di kampus. Namun, setelah kunjungan pertama, kedua, dan selanjutnya, aku merasa diterima dalam keluargamu. Tentu bukan sebagai kekasih anak mereka, apalagi calon menantu. Namun, lebih kepada sebagai anak yang orang tuanya jauh, hampir sama dengan berbaik hati dengan anak yatim piatu.


Mungkin awalnya keluarga kamu memang dapat menerima aku seperti itu. Akan tetapi, seiring waktu berlalu, orang-orang mulai saling melempar lirikan dan ucapan. Aku pun sepenuhnya mengerti, bahwa sekeras apapun orangtuamu, mereka bukan bola besi baja yang bisa tetap bergeming meski badai menerpa.


Tidak ada yang salah dengan keputusan mereka. Aku pun tidak marah atau sakit hati sama sekali. Sedih, memang iya. Namun, tidak ada kecewa. Mari kita bayangkan, jika kita yang berada di posisi mereka: memiliki anak yang digunjingkan oleh orang-orang karena terlalu dekat dengan sahabatnya. Apa yang mereka lakukan adalah hal yang tepat, untuk menghindarkan kamu dan juga keluargamu dari penghakiman orang-orang.


Sayang, ingatkan lagu kesukaanmu? Nothing last forever, dan itu terbukti hari ini. Kita mungkin memang tidak bisa lagi menghabiskan malam dengan berbaring menatap langit-langit yang sama. Namun, kita masih beruntung karena masih ada pagi, siang, sore, bahkan awal malam yang mungkin menanti kebersamaan kita seperti biasa.


Kita masih beruntung karena kamu belum menjadi Siti Nurbaya yang harus menikah dengan Datuk Maringgi sehingga tak dapat lagi bertemu kekasihnya. Kita hanya perlu berganti peran sayang. Tidak ada lagi Romeo-Juliet yang saling mengunjungi sejak malam hingga pagi. Sekarang kamu adalah Cinderella, yang harus pergi ketika peluit kereta berbunyi beberapa kali.


Banyak orang yang bahkan tidak dapat bertemu sama sekali ketika mereka merindu. Ada yang bertemu, namun harus menahan hasrat, bahkan hanya untuk saling genggam di depan umum. Kita masih beruntung, Sayang, masih bisa bertemu ketika kamu ingin dan dapat melangkahkan kakimu ke atas kereta, menuju rumah kita. Jika orang lain dapat bertahan, hingga dua hingga lima tahun, meskipun mereka jarang bertemu dan tidak dapat berbaring menatap langit-langit yang sama, mengapa kita tidak?


Saranku, untuk sementara, biarlah. Jangan bantah atau berkata apa-apa. Biar mereka berpikir bahwa kamu baik-baik saja, dan antara kita memang tidak ada apa-apa. Jika kamu melawan, mereka akan semakin bertanya, dan aku takut jika suatu hari kita benar-benar tidak dapat bertemu lagi. Namun, jika kamu biarkan, semuanya akan baik-baik saja. Jangan ada tangis. Jangan ada amarah. Simpan untuk kita berdua saja. Lalu, kita masih dapat menjalankan rencana awal, di mana Bulan, Pelangi, bahkan Matahari akan berkunjung menggantikanku. Akan kutitipkan rinduku pada mereka untukmu.


”My house is out there, but my home is right here, with you.”


Aku masih memercayai kata-katamu saat itu.


July 29th 2009

9.21 A.M.

Tuhan, lindungilah rumah kami…


Tuhan, aku mau ngobrol denganmu, boleh?

temanku bilang Kau bisa dihubungi 24 jam....Gratis, pula. Soalnya kau khawatir, uang sakuku telah menipis di akhir bulan, dan yang mau aku ceritakan berbaris baris.

Tuhan, ciptaanMu itu asyik ya! Aku belum menemukan satu pun yang sama.

Kata mereka, Kau juga suka bercanda

bercanda membuatku seperti ini, seorang gadis kecil yang terombang ambing di kapal nabi Nuh

tapi turun di tempat yang salah

di Pompeii, di kaki gunung Vesuvius

yang katanya Kau hancurkan

sambil kuraba-raba kisah kaum Luth, yang membuatku bertanya

apa badai akan Kau kirim ke tempatku juga?

Tuhan, aku tidak tahu yang mana candaMu dan yang mana yang bukan

apakah aku diuji atau justru dikutuk

atau jangan-jangan aku diberkahi. entahlah.

pokoknya Tuhan, aku suka jalan-jalan

kemarin aku mampir ke pojok agnostik

dimana percaya padaMu juga aku

tapi tetap saja mau meliuk menghindar

dari tugasku

aku ingin cerita banyak padaMu

tapi Kau Maha Tau, Kau sudah tahu semuanya

jadi untuk apa aku bercerita?

yasudahlah, Kau kan Maha Mendengar

jadi aku yakin, aku juga akan didengarkan

Tuhan, aku mau bilang

ciptaanMu yang satu itu menarik hatiku

tapi orang-orang bilang tidak boleh

mereka marah-marah padaku

kenapa ya?

Padahal dia kan ciptaanMu juga

lalu Tuhan, aku iseng mengajaknya ke duniaku.

tapi dia baik, aku ditarik menemuiMu.

jadi aku kembali lagi. Ke atas sajadah dan sujud serta ruku' yang ingin kusempurnakan.
sujud terakhir yang isinya penuh doa, dan sehabis salam yang kuisi dengan cerita.

Aku jadi rindu padaMu.

Tuhanku, aku mau tanya

daripada ia harus beradu menciptakan perkelahian yang tidak Kau suka di muka bumi

bagaimana jika ia melamarku padaMu?

bolehkah?

Tuhanku, aku tau Kau telah mengajakku berbincang. Lewat kata-kataMu yang ditulis dalam ayat-ayat yang membuat bibirku bergetar membacanya.

tapi, aku juga ingin mencintaiMu dengan sederhana. tapi lucunya aku sering alpa.

Tuhan, aku mau bincang-bincang lebih banyak.

tapi malam ini aku mau tidur nyenyak.

jangan lupa leave comment ya, boleh kapan saja, yang penting tinggalkan jejak kalau itu dariMu...

Tuhan, doaku juga sampaikan untuk ciptaanMu yang satu itu ya...

Amin...


My partner, Sky hobi sekali menginterupsi. Kalau ada skala 1-10, aku akan bilang poin untuk dia 9,5.

Apakah setinggi itu? Jawabannya, YA. Ditambah lagi sifat obsesif kompulsifnya yang duduk manis di skala 8. Lucunya, dan mirisnya, hobi itu semakin menjadi-jadi di tengah perbincangan kami yang romantis, di sela-sela pelukannya yang hangat dan sentuhan yang menggoda.

Dan kemudian, segala moment indah itu harus dipotong dengan pertanyaan seperti,
“Udah dikunci pintunya? Kuncinya gantungin di pintunya ya”

dan

“Sayang, gelasnya taruh di atas meja dulu ya”

lalu

“Oh iya, aku belum cuci gelas tadi”

serta

“Sayang, kamu udah sms untuk konfirmasi kehadiran kamu?”

Itu bagus sih, menurutku. Wujud peduli lingkungan (dengan mencuci gelas yang cuma satu), Aware (dengan berkali2 mengingatkan tentang pintu yang dikunci dua kali dan digantung padahal tidak ada orang yang akan masuk karena di kost-an sudah sepi) , dan baju yang terlepas kami harus berakhir di gantungan dulu sebelum kulitku bisa menyentuhnya.

Masalahnya, seringkali dia melakukannya di tengah desah-desah manja dan peluk hangat di tubuhmu. Di sela-sela itu masih kamu sempat berkata tentang kuku yang belum kupotong padahal ini sudah hari jum’at lagi.

Hallo? Sayangku… biar kita lanjutkan dulu acara kita sampai selesai, biar selesai segala cinta kita layarkan dan labuhkan.

Biar selesai tugasku dan tugas kita. Waktu mengejar kita sayang. Kita tak perlu memasang tenda jika sedang berlayar, bukan?


p.s: jangan sampai aku harus memasang tulisan don't disturb atau don't interrupt di depan wajah kekasihku yang cantik tapi ganteng ini, ya....


Waktu tidak pernah meninggalkan kita; kitalah yang meninggalkan waktu.

Aku tidak ingat kapan dan di mana aku pernah membaca kata-kata itu. Namun, aku pikir kalimat itu benar. Hari ini aku sadari, jarak telah terbentang cukup jauh sejak pertama kali aku mengetik dan mem-publish posting pertama di blog ini. Satu bulan lamanya. Sekitar tiga puluh hari yang lalu, aku memutuskan untuk membuat tempat ini. A sanctuary. For me. For us...


Sejak awal, ini adalah sebuah hideout. Sebuah tempat persembunyian. Sebuah media katarsis. Sebuah space, di mana kami tidak perlu lagi mengenakan topeng kepura-puraan demi menjaga perasaan atau kepentingan orang lain. Sebuah rumah, di mana kami dapat beristirahat di dalamnya dengan aman; berlindung dari tudingan orang-orang akan moral, etika, agama, tradisi, atau apapun itu yang dianggap ”baik” dan ”seharusnya”. Setidaknya itulah yang aku harapkan ketika pertama kali memasukkan email dan membuat password.


Satu bulan. Namun, ternyata, rumah ini pun tidak pernah aman. Tadinya aku, pikir, semua yang datang adalah kawan; adalah orang-orang tanpa judgment, tanpa asumsi, tanpa intensi untuk mencari. Maka, aku buka jendela rumah ini lebar-lebar, membiarkan siapapun melirik, memandang, menonton segala yang terjadi di dalamnya. Akan tetapi, di antara orang-orang yang mengintip dari balik jendela, ternyata ada pula yang mencoba menebak, bahkan mencari dan berusaha mengonfirmasi. Padahal, untuk apa rumah ini kami bangun jika kami tak bisa berlindung di baliknya? Jika rumah ini sama tidak amannya dengan dunia luar bagi kami untuk melepaskan segala kebohongan, buat apa tempat ini ada? Lebih baik kami langsung saja menuliskan nama asli, bahkan memasang foto mungkin, biar seluruh dunia tahu, ini kami dan semua yang sebenarnya ingin kami simpan sendiri.


Kecemasan mengancam. Identitas simbolik ternyata tidak terlalu membantu kami dalam membangun ruang-ruang privasi. Maka hari ini, tiga puluh hari sejak pondasi pertama tempat ini diletakkan, aku mencoba merangkul setiap sahabat. Hari ini, Hujan, Pelangi, Bulan, dan Matahari bersama melintasi Langit. Kami mencoba menyatukan pemahaman, menyamakan tujuan, bahwa tempat ini adalah sebuah sanctuary yang perlu dilindungi. Dari apa? Dari mata dan telinga. Dari tangan-tangan jail yang dengan iseng berusaha menelanjangi simbolisasi kebebasan kami.


Jangan takut sahabat! Langit masih biru dan masih membentang seluas pandangmu. Semuanya akan baik-baik saja selama kita bersama dalam lingkaran yang satu. Lingkar bianglala, dengan warna-warni menyala. Lingkar sahabat, dengan tangan saling genggam. Lingkar kepercayaan, di mana kita memercayakan serpihan kecil hati kita pada satu sama lain.


Aku menyayangi kalian, Sahabat, maka kupercayakan seserpih hatiku pada kalian.


Semoga setiap yang membaca mengerti, dan berhenti. Tidak lagi mencoba melihat kita dari siapa diri kita, tetapi dari kejujuran yang kita lahirkan melalui barisan kata.


July 27th 2009

9.24 P.M


Sudah larut, Sayang. Sudah sepuluh. Sudah larut Langit malam dalam deras Hujan. Sudah surutkah cintaku padamu? Ternyata belum. Aku masih di sini, berbagi sepuluh bersamamu. Sepuluh detak degup kita, dalam sepuluh bulan yang terasa seperti sepuluh langkah dalam kehidupan.


Sudah sepuluh. Ya, Sayang. Sepuluh kuap, sepuluh kantuk, sepuluh pejam, sepuluh redam, dalam sepuluh yang singkat namun panjang. Sepuluh cemas, sepuluh harap, sepuluh takut, sepuluh lega, menari bersama sepuluh hitam-putih dalam setiap siang-malam yang kita lewati. Sepuluh tawa, sepuluh tangis, sepuluh teriak dalam semangat untuk saling berbagi, baik senang maupun sakit, bersama.


Tidakkah, kau harus pulang sekarang, Sayang? Sudah sepuluh waktu kita santap bersama, dalam ruang cinta kita. Sudah sepuluh kali seprai biru berganti cokelat, kemudian biru lagi. Sudah sepuluh dua enam-dua tujuh kita rayakan dalam kesederhanaan. Tidakkah mereka memintamu kembali? Namun, sepuluh kali pula kau tepis permintaan mereka, dan untuk itu aku berterima kasih.


Adakah kau bosan, Sayang? Ya, mungkin sepuluh bosan pun telah terlewati, menyisip di sela-sela keinginan untuk tetap seperti ini. Sepuluh rindu, sepuluh rengkuh, sepuluh sendu... Orang-orang mungkin tidak akan pernah mengerti, meski suatu saat mereka tahu, bahwa di antara kita tidak hanya ada nafsu. Mungkin tidak akan ada pula yang percaya, bahwa telah kita lewati sepuluh argumen, sepuluh sakit, sepuluh adu amarah dan airmata, bahkan sepuluh kompetisi bunuh diri, di antara tawa dan sikap tidak peduli.


Kita mungkin tidak akan sehidup-semati. Namun, kita adalah sepasang kekasih, sahabat, dan saudara sehati, bersamaan ketika kita menjadi kompetitor; saingan sejati. Jika setiap yang kita lalui adalah secangkir kopi, maka masih kunikmati pahit-manisnya, meski cangkir kesepuluh pun telah habis kuteguk hari ini.


Mari bersulang, Sayang, untuk yang kesepuluh kali. Ternyata, aku pernah, telah, dan masih mencintaimu hingga detik ini.


July 27th 2009

10.23 P.M.


Sepuluh sudah sempurna jemari kita, sayang.
Sudah kita angkat lagi jemari yang menghadap ke atas, sambil kamu membaca doa dan aku merapal mantra.
Sambil aku yang biasa mengaliri pipi dengan air mata, ketika bincang-bincangku pada Tuhan.

Karena telah sepuluh jari jemari kita menggenapkan satu dengan yang lain.
Karena telah sepuluh diantara berpuluh-puluh malam yang kita lalui

Sepuluh ini,
bukan untuk berlari mengejar angka selanjutnya sampai kalender usang menenggak habis hari.

Sepuluhku kali ini adalah tentang jari;

jari jari jemari
dan dada yang guruh gemuruh
serta getarnya yang sibuk

saat berbisik mengangkat sepuluh pada Tuhan
dan berkata

"Tuhanku, terima kasih"

dan bungkusan cinta yang merah darah dan kadang merah jambu kubuka lagi

"Tuhan, terima kasih. Masih enak dan lezat... Ini belum basi"

dan kucelup tanganku pada air yang mengalir sambil mengikut doaku

dalam niat dan sujudku kubisikkan nama

dua nama.

namanya dan nama Tuhanku.


Kita tidak berjalan di jalan yang sama, tetapi di dua jalan yang bersisian.


Kalimat itu dibisikkan pada sebuah malam ketika kami bertengkar. Saat ini, ketika pertengkaran telah usai dan kami kembali berjalan bergandengan, kata-kata tersebut masih menggema di dalam kepalaku seperti seekor semut yang menciptakan lorong-lorong sarang di antara butiran pasir. Tidak bisa aku sangkal, kata-kata itu benar


Pada kenyataannya, manusia memang tidak pernah berada di jalan yang sama. Setiap orang memiliki jalannya sendiri-sendiri. ada yang lurus, ada pula yang menikung tajam. Kerikil, panas, dan pohon tumbang yang merintangi setiap jalan pun dapat berbeda rupa. Hanya awal dan akhirnya yang pasti sama: ketiadaan.


Ketika kita bergandengan tangan dan berjalan bersama orang lain, tidak berarti bahwa orang tersebut telah berpindah ke jalan yang tengah kita tapaki atau sebaliknya. Jalan kita hanya sedang bersisian dengannya. Perbedaan akan selalu ada dalam berbagai bentuk seperti pemahaman, kecemasan, harap, keinginan, dan kewajiban. Berbagai ketidaksamaan inilah yang sering membuat kita tertarik pada orang lain. Namun, hal tersebut pula yang sering membuat kita semakin jauh terpisah.


Banyak dari kita yang lebih senang berjalan dengan tangan saling genggam daripada sendirian. Namun, tidak satu pun dapat meninggalkan jalannya. Hal itu menyebabkan kita berusaha menarik orang lain untuk mengikuti kita ketika liuk jalanan sedikit berbeda. Sementara, orang itu pun berusaha melakukan hal yang sama. Maka, jangan heran jika konflik demi konflik lahir di tengah-tengah.


Masing-masing dari kita perlu mengingat bahwa pada suatu waktu, setiap jalan akan meliuk dan menari dengan ritme dan arahnya masing-masing. Ketika saatnya tiba, kita harus dapat melepaskan genggam dengan ikhlas, baik untuk sementara ataupun untuk selamanya. Tidak ada gunanya kita mengutuki jalan yang memaksa genggaman kita untuk lepas karena jalan itu pula yang dulu kita syukuri karena mempertemukan dua tangan untuk saling genggam. Dia pula yang akan mempertemukan kita dengan tangan-tangan lainnya serta memberi kesempatan untuk memilih.


Well, di mana dan dengan siapa pun kita berjalan saat ini, ingatlah bahwa kebersamaan tidak sama dengan kesamaan. Keduanya tidak harus hadir bersamaan. Kita dapat tetap bersama di jalan yang berbeda. Jangan memaksa untuk sama karena paksaan hanya akan merusak esensi kebersamaan itu sendiri.


July 22nd 2009

5.16 A.M.


Perkenalkan, namaku Dimii. Aku mendapat julukan si Matahari dari keempat temanku, Langit, Hujan, Bulan, dan Pelangi. Berbeda dengan mereka yang memilih sendiri julukan langit, hujan, bulan dan pelangi, sedangkan aku, tiba-tiba saja mendapat julukan ini dari mereka. Tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu, mereka setuju aku lah si Matahari.

Pertama kali mendengar hal itu, aku merasa sangat tersanjung. Tapi, aku merasa julukan Matahari terlalu hebat untukku.


Awalnya aku bingung, apa yang mereka samakan dari diriku dengan Matahari, ya? Aku rasa aku tidak hebat dan patut dipuji layaknya sebuah Matahari yang selalu memancarkan energi bagi semua makhluk hidup di Bumi. Namun, dibalik keagungannya, Matahari tetap mempunyai sifat egois. Bintang yang terbesar dan paling bersinar itu, kerap dianggap angkuh dan sombong karena seakan tidak mau berteman dengan benda langit lainnya. Bintang itu terlalu tinggi letaknya, jauh di atas langit yang berlapis-lapis, sehingga ia akan selalu berjarak dengan apapun dan siapapun. Sinar panasnya pun, seperti border pelindung yang otomatis bisa membuat benda apa saja terbakar hancur apabila mendekatinya dan bisa membuat manusia buta jika terlalu lama melihatnya. Matahari menutup diri. Ia tidak ingin ada yang bisa mendekatinya.


Begitulah diriku. Dulu, aku ibarat Matahari yang tidak bisa mengontrol sinar panas yang aku pancarkan. Tidak peduli dengan mereka yang telah terluka karena berusaha ingin lebih dekat denganku. Namun, sekeras apapun sifat matahari, ternyata ia tetap mempesona di mata keempat benda langit lainnya. Sayangnya, aku baru menyadari hal itu. Dan sekarang, sinar yang Matahari pancarkan bukan lagi sinar panas yang melukai, melainkan sinar persahabatan bagi Langit, Hujan, Bulan, dan Pelangi.


Walaupun aku si Matahari, aku ini nggak ada apa-apanya dibandingkan keempat temanku. Walaupun aku terkesan (sok) galak dan (sok) tegas, tapi tetap saja aku lah yang paling sering dikerjain oleh mereka. Yeah, aku dianggap yang paling kecil, karena kelakuanku yang mereka anggap agak lebai.


Julukan Matahari memang sudah terlanjur melekat padaku. Walaupun begitu, aku sudah menemukan Matahari apa yang pas dengan ku. Aku rasa, Matahari bermuka bayi yang ada dalam serial Teletubbies cocok untuk menggambarkan diriku. Aku ini Matahari yang sangat menggemaskan saat tertawa (apalagi saat tingkah lakunya yang malu-maluin kumat lagi). Matahari yang imut seperti bayi tembem. Matahari yang lucu, karena masih bisa membuat kalian tertawa disaat kalian hampir membuat matahari menangis (awas ya kalian!). Wah, ternyata aku benar-benar menggemaskan seperti bayi matahari Teletubies itu (Narsis mode: ON).


Bagaimana menurut kalian, my sista and my bro, Bayi Matahari yang ada di serial Teletubbies pas denganku kan?


Yeah..Aku adalah Dimii, the Baby Sun!


Waktu berjalan dengan sekehendaknya tanpa peduli dengan para penggunanya. Manusia menjalani hidup seiring waktu terus beranjak. Kadang manusia lupa akan pengiringnya itu. Tapi kadang justru waktu yang menakuti manusia. Ketika kita masih kanak-kanak, ingin cepat menjadi dewasa. Ketika menjadi dewasa, kita merasa jauh lebih enak menjadi anak kecil. Itulah realita kehidupan yang kita jalani sehari-hari seumur hidup kita. Menjalani fitrah sebagai yang terlahir, menjalani hidup, lalu menyambut kematian. Topik inilah yang berhasil sutradara David Fincher sajikan dalam film The Curious Case of Benjamin Button dengan apik.

Film yang diangkat dari cerita pendek dengan judul yang sama oleh F. Scott Fitzgerald ini mengisahkan seorang laki-laki bernama Benjamin yang terlahir dengan keadaan yang tidak lazim, terlahir dengan keadaan fisik yang tua, dan tumbuh berkembang menjadi semakin muda. Yaa, melawan teori perkembangan yang seharusnya Benjamin tumbuh melawan waktu. Ia terlahir di masa akhir perang dunia I dan ayahnya, Thomas Button, membuangnya ke sebuah panti jompo asuhan seorang Afro-American, Queenie. Ia menjalani hidupnya sesuai dengan keadaan fisiknya yang semakin lama semakin muda. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang gadis kecil yang merubah hidup Benjamin selamanya, Daisy. Daisy adalah cucu dari seorang penghuni panti jompo tempat Benjamin tinggal. Dengan Daisy, Benjamin merasakan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

Kehidupan Benjamin yang menarik karena perkembangannya yang berbeda sungguh sangat mengesankan. Ketika ia bergabung dengan seorang tugboat sailor, ia belajar banyak hal dari kaptennya, Captain Mike. Kisah cintanya yang rumit bersama Daisy dan juga diselingi pertemuannya dengan Elizabeth Abott. Semuanya diramu dengan apik dan mengalir dengan sedap. Yang lebih menarik adalah bagaimana Benjamin menghadapi kematiannya dengan perkembangan yang terus memuda. Akan sulit memang mendeskripsikannya disini, karena memang akan sangat jauh lebih bermakna ketika menontonnya sendiri. Dan juga banyak hal yang bisa lebih jelas jika menontonnya langsung.

Film ini berhasil memadukan konsep waktu, kehidupan, dan kematian dengan alur yang tidak terlalu rumit. Walalupun memang akan sangat sulit dimengerti jika kita tidak memperhatikan setiap detail ceritanya, pembawaan karakter setiap tokohnya sangat pas. Merupakan hal yang pantas jika film ini menyabet 3 penghargaan Oscar. Film ini memberikan sebuah gambar kehidupan yang mungkin saja bisa dilalui oleh setiap orang. Bagaimana waktu, kehidupan, dan kematian berdiri sendiri ataupun saling berkaitan menjadi sebuah siklus terlihat jelas disini. Such a great movie!

Selamat Menonton !!!

*mengutip satu quotes yang menurut penulis sangat bermakna yang selalu dikatakan Queenie pada Benjamin,
You never know what's coming for you.


Hidup makin sulit.
Dunia makin kejam.

Hmm, begitulah keadaan saat ini. Semua orang berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara apapun, bahkan cara yang tidak halal sekalipun. Ekonomi saat ini sangat sulit diterka, apalagi setelah krisis global yang melanda. Di Indonesia sendiri, walaupun katanya krisis global tidak terlalu berdampak pada ekonomi negara, dampaknya tetap saja terasa. Buktinya, dari yang gue baca pada koran Media Indonesia edisi Jumat (17/9), inflasi ekonomi negara kita tahun 2009 diprediksikan mencapai 3%. Naik jauh dibandingkan 2008 yang hanya 0,99% (kalau gak lupa dan gak salah baca). Hal ini tentunya semakin memperburuk keadaan ekonomi kita di tahun-tahun mendatang.

Sangat terbayang akan seperti apa wajah ekonomi kita, kan?
Mungkin bagi orang-orang yang termasuk kalangan ekonomi atas, hal ini tentu takkan berpengaruh banyak. Namun untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah, apalagi yang dibawah batas garis kemiskinan, hal ini akan diam-diam menggerogoti dan menenggalamkan mereka dalam kehidupan yang serba sangat kekurangan.

Nah, hal inilah yang menurut gue semakin memicu begitu tingginya angka kriminalitas di negara kita. Saking kekurangannya dan bingung harus dengan cara apa lagi mendapatkan uang, mereka kehilangan akal sehatnya dan pada akhirnya menggunakan cara yang salah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. And it's real around us. Kita sering melihat banyak kejadian-kejadian kriminal yang terjadi di TV dan hal itu membuat kita lupa bahwa hal seperti ini mungkin bisa terjadi dalam kehidupan kita sendiri. Seperti yang nyokap gue alami.

Hari Jumat minggu lalu (10/7), nyokap gue pulang ke rumah dengan tergesa-gesa. Gue dan kakak gue yang ada di rumah bingung karena sikap nyokap gue yang gak biasa itu. Ternyata nyokap gue langsung ke kamar dan tak lama ia berteriak mengucap asma-asma Tuhan. Gue langsung lari mendekati nyokap gue.

Nyokap, "Gelang Mama dijambret. Tadi gak kerasa di angkot hilangnya." (bernada sangat lemas)
Gue, "Kok bisa? Yaa ampuuun..."

Lalu nyokap pun bercerita tentang kronologis dijambretnya gelang kesayangannya itu.
Hari itu, ia pulang naek angkot karena bokap gak bisa jemput. Di angkot yang ia naiki, ada beberapa orang yang sudah duduk duluan. Tiba-tiba ada seorang penumpang yang membuat kehebohan dengan mengatakan bahwa dirinya kepanasan dan ingin membuka semua jendela mobil. Tentu saja akan sulit karena angkot sedang penuh. Ia terus memaksa hingga penumpang saling mendempet lebih rapat satu sama lain. Kehebohan itu berakhir ketika tiba-tiba orang yang membuat kehebohan itu turun dari angkot. Keadaan mereda, namun nyokap kaget karena ia meraba pergelangan tangannya dan gelangnya hilang. Ia tidak langsung heboh karena ia berpikir siapa tau gelangnya ketinggalan di kantor atau lupa ia pakai dan ada di kamarnya di rumah. Makanya ketika ia sampai ke rumah ia heboh langsung lari ke kamar untuk mengecek apakah gelangnya ada di sana atau tidak. Setelah yakin tidak ada di rumah, ia menelepon OB yang ada di kantornya untuk mengecek keberadaan gelangnya. Hasilnya sama, nihil. Nyokap gue pasrah dan yakin bahwa gelangnya dijambret. *Mam, yang sabar yaa...

Gue kaget sekaligus mikir karena kejadian yang nyokap gue alami ini.
Jadi inget apa yang pernah Langit dan Matahari alami beberapa waktu yang lalu.
Gue jadi inget satu pepatah,
"You'll never know, until you've tried.".

Maksudnya, kita gakkan pernah tahu satu hal tanpa pernah ngerasain hal itu secara langsung.
Pada awalnya, gue mungkin cuma bisa kasihan dan geram melihat adanya kejadian pencurian.
Tapi pas ngena ke gue sendiri, ternyata rasanya lebih menyesakkan dan mengesalkan.
Dan tentunya ada satu pelajaran yang bisa gue petik dari hal ini, berwaspada.

So, friends, just beware of your circumstances!
It's just more than you expect.


Gak gue pungkiri kalo badan gue gede dan bulat.
Sebulat lingkaran pelangi.
Ini juga yang selalu nyokap gue keluhkan.
Dan kadang nyokap gue selalu melontarkan komentar, saran, kritik, sekaligus pujian jika ada perubahan dengan tubuh gue.

Dan hal itu pun terjadi ketika 10 hari yang lalu gue fitting baju buat nikahan kakak sepupu gue Oktober nanti.
FYI, gue biasanya memakai baju dengan ukuran XXL. Nah, pas fitting itu gue mencoba memilih pakaian dengan ukuran XXL dan XL.

Sebenernya gue udah pesimis dengan ukuran XL, karena gue udah berpengalaman dengan mencari baju sekaligus kecewa karena gak dapet ukuran yang diinginkan.

So, gue coba yang XXL dulu. Wow, enak dipakenya tapi emang gue ngerasa agak kedodoran.
Lalu cerita dimulai :

Nyokap, "Coba pake yang XL, Dek.."

Gue, "Ehm... iya..iyaa.." (sambil ragu-ragu)

Lalu gue pun mencoba. Dan cukup. Pas ngepas. Dan lumayan enak dipakenya.

Gue sendiri agak kaget karena jarang banget gue muat ukuran XL.
Pas gue lagi ngaca tiba-tiba,
Nyokap,
"YAA AMPUUUUUN, ADEK KAMU MUAT XL..."
(setengah teriak)
Gue, nyengir dan mulai gak enak karena pelayan butik ketawa-ketiwi ngeliat gue.
Bagi gue itu teriakan kenceng banget dan gue yakin bisa kedengeran seisi ruang fitting room.
TENGSIN, bo!
Gilaaaaa! Itu butik lagi lumayan rame banget ama orang yang fitting dan nyokap teriak untuk bermaksud memuji gue. Tapi yang ada gue malu. Malu banget.
Gue serasa diliatin semua orang. Mana pelayannya cengengesan gak jelas lagi.
Siiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaaaallll !!!

Gue langsung cepet-cepet ganti baju lagi.
Selesai ganti, gue bilang ke pelayannya jadinya gue ngambil yang XL dan langsung keluar butik.
Gue langsung diem di mobil dengan wajah gado-gado.
Sebel, malu, tengsin, pengen marah, dan BETE!
And you know what? Pas nyokap selesai dan balik ke mobil, wajah dia WATADOSS.

Wajah Tanpa Dosa Sama Sekali.


Nyantei banget. Padahal anaknya udah super tengsin.

Dia malah heboh laporan ama bokap gue tentang gue yang muat pake ukuran XL.
Hwaaaaah!

SUMVEH, ini pujian yang membawa aib.
What a day!


Hujanku sedang sakit. Radang tenggorokannya semakin parah. Mungkin karena kondisi tubuhnya menurun, dia juga sedikit tertular sakit dari adik perempuannya. Setelah bernegosiasi dengan sang ayah kemarin, akhirnya dia bisa ke kampus hari ini. Tapi, menurutku dia juga sedikit memaksakan diri karena hari ini dia bahkan sedikit sulit untuk berdiri tanpa terhuyung. Dia demam. Tenggorokannya meradang hingga ia sering batuk-batuk parah. Aku memberikan sebutir vitamin, sepotong amoxicilin 500mg, dan sebuah tablet obat flu untuk dia minum siang tadi. Menyadari dia tidak flu, malam ini aku memberinya FG Troches dari Pelangi dan membiarkannya meminum satu tablet amoxicilin 500 mg setelah makan.

Sekarang Hujanku sedang tidur. Dengan keadaannya saat ini, aku tidak rela membiarkannya berdesakan di kereta sementara besok pagi dia harus kembali ke kampus. Maka, setelah mendapat telepon dari sang ayah dan memeroleh persetujuan untuk tinggal, jadilah dia menginap di kost-an malam ini. Di satu sisi, aku senang karena akhirnya aku bisa bersamanya lagi. Di sisi lain aku merasa sedih dan bersalah karena dia sakit tetapi tetap mau menunggu aku selesai mengajar hingga akhirnya menginap di kost-an.

Lelaplah dalam tidurmu, Hujanku. Biar besok kamu dapat terbangun dan merasa lebih baik. Cepatlah sembuh. Biarkan radang dan demam itu berpindah seiring meningkatnya suhu tubuhku.


July 16th 2009
9.30 P.M.
written by Sky, with a runny nose...

Biasanya Hujan turun nyaris setiap hari di kost-an ku... Namun, musim kemarau sudah mulai mengetuk pintu. Mungkin karena itu pula, Hujan tidak dapat sesering dulu menemaniku...

Minggu lalu, Langitku sepertinya Hujan tiap hari. Aku sempat menginap di rumahnya dua kali, dan pada saat aku tidak di sana, dia yang menginap di tempatku. Nyaris tidak ada waktu untuk tidak bertemu. Kecuali, tentu saja, ketika kuliah atau aku sedang mengajar di tempat les kecil nan jauh itu.

Namun, minggu ini dunia rasanya terbalik. Seiring semakin meningkatnya temperatur dan menghilangnya air selama beberapa hari di kost-an, Hujanku pun seakan lenyap. Tidak, kami tidak bertengkar. Hari Sabtu dan Minggu kemarin dia harus tinggal di rumah karena orangtuanya sedang tidak ada. Sementara itu, tadinya aku pikir aku akan pergi ke suatu tempat dengan teman dua hari itu, sudah janji dari dua minggu lalu. Namun, ternyata teman itu sakit. Jadilah dua hari itu aku bersih-bersih, mencuci, dan mengerjakan tugas kuliah dalam sepi sendiri.

Ketika Senin tiba, aku pikir kami bisa bersama. Namun, ternyata ibunya masih harus mengurus sesuatu di luar kota, yang pulang hanya sang ayah karena harus masuk kerja. Jadilah Hujanku harus menjaga rumah hingga sang adik pulang sekolah, lalu secepatnya ke kampus, berharap tidak terlambat. Tidak ada waktu untuk singgah ke kost-an. Setelah pulang kuliah hari itu, ada seorang teman yang ikut mengunjungi kost-an, sekalian menunggui Hujan agar dapat naik kereta bersama. Jujur aku kecewa.

Hari Selasa, Langit kembali sendiri. Hujan tidak ada jadwal kuliah dan masih belum dapat meninggalkan rumah. Aku menghabiskan waktu dengan online gila-gilaan setelah kelas, dan setelah mengajar. Sebenarnya tidak ada juga yang dapat aku lakukan di dunia maya, selain mengunjungi blog orang tanpa tujuan pasti, dan chat: berharap namanya akan muncul di layar messenger sambil ngobrol menghabiskan waktu dengan orang yang aku kenal secara online. Sepi dan sendiri mulai meracuniku, dan aku belum ingin mati sehingga aku mencari cara agar tidak lagi merasa sendiri.

Hari ini pun tiba. Rabu. Biasanya dia ada kelas, namun minggu ini kelas itu dipindah menjadi hari Kamis. Aku berkunjung ke rumah Hujan siang ini. Radang tenggorokannya kambuh sejak semalam. Hari ini, adik perempuannya demam tinggi. Setelah ngobrol sejenak, aku tahu bahwa ibunya mungkin baru pulang hari Minggu dan tidak ada yang dapat menggantikannya menjaga dua orang adik. Timbullah kemungkinan bahwa dia harus bolos kuliah besok. Kecewa kembali menggurat hati, tetapi aku sadar, aku harus sabar. Tidak mungkin memaksanya untuk ke kampus demi bersamaku jika harus meninggalkan sang adik sendiri. Itu egois namanya.

Aku harus pulang ke rumah tante hari Sabtu dan Minggu ini. Maka, satu-satunya harapanku hanyalah hari Jumat. Aku akan mengajar hingga pukul setengah dua belas. Dia harus mengikuti sebuah pelatihan hingga siang. Adik laki-lakinya tidak sekolah sehingga dapat menggantikannya berada di rumah. Yah, hanya bisa berharap dan berdoa agar semuanya dapat berjalan sesuai harapan ku.

Bila Hujan terlalu lama menyerapi tanah di bumi dan tidak naik kembali ke Langit, kemarau mungkin akan kembali memanggil sepi dan sendiri untuk meracuni hari.


July 15th 2009
9.37 P.M.

Mengingat sepenggal kisah lalu. Entah kapan tepatnya, tak dapat kuingat jelas. Aku memang tak pandai mengingat kronologis suatu peristiwa, bahkan peristiwa yang kualami sendiri.

Pintaku untuk maafmu, sang Matahari. Pinta yang tak sempat kuucap langsung padamu, namun kutitipkan pada langit bersama hujan dan pelangi. Maaf akan kesalahpahaman yang sempat kusematkan dalam benakmu. Maaf akan ketidaknyamanan yang sempat kusisipkan dalam hatimu.

Sinarmu begitu menarik perhatianku. Kau yang tak tersentuh, menggelitik asaku untuk lebih mendekat padamu. Meraih sebanyak-banyaknya sinarmu. Untuk menjadikanku purnama. Rayu pun paksa kutujukan padamu. Tak lain demi mendapat sinar persahabatan darimu.

Segalanya berubah saat kutahu kau justru semakin menjauh. Sembunyi di balik bumi. Selaksa gundah muncul, aku takut kau benar-benar membenamkan diri di balik bumi untuk menghindariku. Dan aku menjadi gerhana, tanpa sinarmu.

Beruntung aku memiliki langit dan pelangi sebagai perantara, serta hujan yang tak segan turun untuk membantu. Sehingga kini, aku dapat (setidaknya) tetap menerima sinarmu. Meski tak selalu purnama, at least tidak gerhana.

Terima kasih langit, hujan, dan pelangi atas apa yang telah kalian lakukan. Aku beruntung memiliki sahabat seperti kalian yang senantiasa merangkulku, menyadarkanku atas kesalahanku, bahkan membantuku mencari solusi atas keretakan yang telah kubuat.

Terima kasih matahari. Biar aku tak ucapkan langsung maafku, kau tetap memberi sinarmu untuk kupantulkan. Kuharap itu merupakan pertanda bahwa kau benar-benar telah memaafkanku.

Kini, aku tak kan lagi memaksa untuk menjadi sedekat mungkin denganmu. Aku akan berpuas atas sinar yang dengan ikhlas kau kirimkan padaku, walaupun itu hanya akan menjadikanku bulan sabit yang melengkung tipis.

-my room, 12072009, 02:58 AM-


Bulan, Nick itulah yang kedua sahabatku, Sky dan Hujan, anugrahkan kepadaku. Tak salah, kupikir. Bulan memang representasi yang sesuai untukku.

Kenapa?

Karena bulan tampak indah dengan caranya tersendiri. Tak seperti bintang, indahnya bulan bukan karena pancaran sinar dari dirinya. Berbeda dengan pelangi, indahnya bulan bukan karena membiasnya titik-titik hujan di langit oleh matahri. Bulan indah karena ia mampu memantulkan sinar yang datang padanya.

Bulan tampak indah dengan pantulan sinarnya di tengah gelap malam. Bulan tampak ramah dengan pantulan sinarnya yang lembut membelai mata. Bulan berpuas atas pantulan sinarnya. Dengannya, langit, hujan, matahari, dan pelangi hanya akan melihat keceriaan sang bulan.

Sungguh, bulan tak ada apa-apanya tanpa sinar yang jatuh kepadanya. Sungguh, bulan tidaklah seindah yang tampak dari kejauhan. Saat kau mampu melihat ku dengan teropong tercanggihmu, atau mendatangiku dengan Apollo kesekianmu, barulah kau dapat menemukan kesejatian diriku. Gelap. Dingin. Tandus.

Bulan tak berharap ada suatu pun yang meneropongnya. Bulan tak kan meminta suatu pun datang untuk menyelaminya. Bulan hanya ingin langit, hujan, matahari, dan pelangi menikmati pantulan sinarnya. Bulan hanya akan memantulkan sinar terlembut untuk kalian.

Anggaplah itu tanda cinta dari seorang bulan bagi kalian. Anggaplah itu untaian terima kasih yang tak selalu dapat kuucap untuk kalian, langit tempatku tersemat, hujan dan pelangi yang kerap menyambut kedatanganku kala senja, dan matahari yang dengan sinarnya aku dapat terlihat indah.
Love you all, my friends…
-my room, 12072009, 01:46am-

Kutemui kau saat aku sedang berloncatan dalam maya mencari kata-kata yang berserak di kolom-kolom yang warna. Pelan-pelan kutelusuri dirimu sebelum menyapa. Takut kamu sibuk, dengan tanda palang merah menyala. Tapi letup-letup ini masih menggedor dan belum mengendor, jadi kukuatkan jiwa raga sambil komat-kamit dalam dada.

"Hai", kusapa

Rasanya ingin kututup jendela dan kabur ke rumah tetangga, menikung di perempatan sambil mengintip diam-diam.. Adakah merpati kembali bertengger di kepalaku?

"Hai", jawabmu. Kulihat ada senyum merekah dalam tulisanmu.

Aku membuncah. Ruah. Tapi sebelum limpah kutahan, sambil kubicara sigap membahas telusurmu.

Tidak bisa
Aku gagap setengah mati
Kata-kata meluncur meledak di kepala

Maka saat keluar hanya berupa pecahan... Aku lupa bagaimana merangkainya.. Ya Tuhan, bagaimana kukembalikan pecahan yang berserak... kukirim juga padamu..

Kamu masih bertanya sedang apa

Bisa kamu menunggu?
Sebentar, aku ingin memperbaiki kataku.

Kau mulai lagi, menyapaku

Pecah, pecah lagi pecahan itu.. sudah tiada beda dengan bulir pasir.. tanganku tergores.
ingin menangis. Aku ingin bilang tiada kata lagi saja tidak bisa

Kugerakkan lentik ini ke papan-papanku.
Masih tergesa dan tergugu membaca mu.
Kusodorkan juga tanganku.

"Salam"

Doakan aku tidak pingsan kali ini.


Keberadaan pekerja anak merupakan suatu fenomena yang seharusnya dihapuskan. Itulah wacana yang sering diangkat di berbagai kompetisi debat hingga beberapa tahun yang lalu. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat memang menganggap bahwa anak seharusnya memperoleh cukup kasih sayang dan waktu untuk bermain sehingga tidak sepatutnya kondisi ekonomi keluarga ditopang oleh sang anak. Meskipun demikian, di negara-negara berkembang dan yang sedang mengalami perang, bekerja bukan hanya menjadi pilihan, melainkan juga jalan hidup bagi banyak anak-anak. Keadaan ini adalah salah satu hal yang digambarkan oleh film Turtle Can Fly yang disutradarai oleh Bahman Ghobadi.

Turtle Can Fly merupakan film bersama Iran-Irak yang menceritakan tentang Satellite alisa Soran, seorang anak yang bekerja memasang antena dari desa ke desa di Kurdi, perbatasan Irak-Turki. Selain itu, Satellite juga merupakan pemimpin bagi anak-anak desa maupun pengungsi, terutama yang telah kehilangan orangtua akibat perang. Di antara anak-anak tersebut, yang paling setia adalah Shirkooh yang sering menangis dan Pashow yang salah satu kakinya cacat.

Setiap hari, Satellite mencarikan dan menentukan di mana anak-anak desa dapat bekerja. Pekerjaan yang sering mereka lakukan untuk memeroleh uang adalah membersihkan ranjau Amerika kemudian menjualnya, dan menjadi kuli di shell field, tempat pengumpulan selongsong peluru dan bom. Tidak ada yang merasa dipaksa, mereka melakukannya dengan kesadaran penuh demi mendapatkan uang.

Suatu hari, seorang gadis bernama Agrin datang meminta tali pada Satellite. Gadis pengungsi itu selalu menggendong seorang balita bernama Riga. Selain itu, Agrin juga memiliki kakak laki-laki bernama Hengov. Kedua tangan Hengov buntung, tetapi dia mampu memprediksi masa depan.

Sebenarnya banyak hal menarik yang dapat diceritakan dari film ini. Namun, akan lebih menarik jika semua itu ditonton sendiri. Film yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun swasta dan tidak sengaja saya temukan di sebuah stand penjualan dvd ini telah memenangkan sejumlah penghargaan, seperti Concha del Oro dari San Sebastian Film Festival dan Silver Hugo dari Chicago Film Festival. Oh, ya, film ini menggunakan bahasa Kurdi. Selain itu, cukup depressing dan agak berat untuk dicerna. Meskipun demikian, setelah menonton sampai habis, pasti dapat membuat penonton menghela nafas.

Selamat menonton!


July 12th 2009
2.37 P.M.

Ahh.. semua aplikasi di facebook sedang heboh-hebohnya maintenance, seperti acara bersih-bersih rumah, mereka memperbaiki sistem, menghapus beberapa program yang tidak perlu, menata ulang, menambahkan sesuatu yang baru...

Supaya tidak sering-sering error loading lah...

Nah, aplikasi itu seperti layaknya hubungan.. harus di maintenance juga. Tapi tetap saja, tidak boleh sering, terlalu lama maintenance justru membuat hubungan ataupun aplikasi membosankan dan tidak berjalan.

Tapi, ngomong-ngomong... Perlukah menjadwalkan maintenance tersebut?

Menurut saya perlu, kira-kira di situasi masa kritis dan masa krisis contohnya, saya masih percaya ada sindrom 3 bulan dan seterusnya, dimana hubungan akan goyah dan pasti saja retak-retak mulai muncul, tiba-tiba saja membanyak seperti jerawat yang makin menjadi sebelum masa period kita datang
Tapi yah, yang namanya manusia seringkali lupa. Apalagi kalau sedang acara marah-marah dan kepala panas membara. 

Kalau sudah begitu, sih, nyenggol sedikit saja bisa jadi perkara.

Maintenance mungkin bahasanya akan sama dengan introspeksi diri
Tapi uh, mungkin caranya bukan bertapa di dalam gua, atau mendaki ke puncak gunung, apalagi ziarah ke makam keramat

Bukan, maintenance bukannya minta wangsit perbaikan, sista.

Maintenace ya itu tadi...
Memperbaiki, menambah, dan menghapus

Terdengar seperti resolusi tahun baru, ya?

Menurutku, tidak juga kok!

Maintenance bisa dilakukan sendirian. 

Kembali beribadah buat yang suka lupa (ups) atau paling mentok kalau tidak ada ide lagi ya membuat resolusi tahun baru. Tapi menurutku, resolusi tahun baru begitu klise, begitu samar ke depan dan beberapa mungkin belum juga diwujudkan sampai sekarang.

Namun, maintenace dalam hubungan bukan hanya dilakukan sendirian.
Namanya hubungan pasti ada yang terhubung, bukan?

Lakukanlah dengan pasangan, di sela-sela makan, contohnya. asal cukup sanggup menerima kenyataan saja yang ikut terhampar di meja makan, karena kemungkinan tersedak cukup besar.

Saya ?
Biasanya kami tidur berhadap-hadapan, dan sayapun memulai pertanyaan. Entahlah… Pertanyaan paling ngawur pun saya lontarkan, dan biasanya akan menjalar kemana-mana. Ke ciuman di kening, peluk erat yang hangat, bulir air mata yang tiba-tiba berlinang, sesenggukan kecil. Sehabis itu lega, tenang.

Atau dengan cara lain. Hubungan kan bukan masalah saya dan dia. Tapi mereka : orang lain, teman dekat, sahabat untuk menilik baik-baik. Kan, dunia bukan milik kita berdua saja
Atau… kita bisa membuat maintenance kita menjadi lebih asyik dan sehat

Dengan apa, ya.. kira-kira?

Akh… banyak sih ide berloncatan disini.. Tapi kupikir, bukannya setiap pasangan punya caranya sendiri, ya kan?

Harusnya aku senang hari ini. Setelah beberapa lama, akhirnya aku punya waktu untuk sendiri. 

Ada kesempatan untuk bersantai dengan caraku sendiri: bersih-bersih dan mencuci. Ada spasi di antara derasnya alir waktu untuk sekedar bernapas. Ada aku. 

Hanya aku.

Kadang ketika kita terlalu sering bersama, aku menantikan saat-saat seperti ini. Waktu di mana aku bisa diam dan menulis atau membiarkan pikiranku mengalir tanpa perlu diungkapkan. Saat di mana aku dapat diam seharian tanpa membuatmu merasa diacuhkan.

Namun, entah mengapa malam ini rasanya tidak menyenangkan sama sekali. Setelah semuanya usai aku kerjakan, tidak ada lagi yang dapat atau ingin aku lakukan.

Weekend. Kost-an kosong. Jalanan di sekitarnya lengang. Orang-orang berkumpul di kedua mall yang sering kita kunjungi itu. Masing-masing menggandeng tangan atau lengan pasangannya...  

Arrghh...! Kenapa aku memutuskan untuk pergi belanja malam ini? 

Keberadaan orang-orang itu malah membuatku semakin memikirkan dan merindukanmu. Padahal, tanpa mereka pun aku sudah sangat merindukanmu...

Ingin bersamamu malam ini. Berharap bisa menyentuh lembut kulitmu. Berkhayal bisa berbaring di sisimu. Ingin rasanya menggenggam tanganmu malam ini. Lalu membisikkan kata cinta dan rayu. Lalu menikmati diam. Berdua denganmu.

Namun, semua hanya khayalku. Mungkin sebaiknya aku segera tidur saja malam ini. Memimpikanmu...Hujanku.


July 11th 2009
9.43 P.M.

In the living room