The Sky is High

It's just a box of pieces of a puzzle about a small circle of friends. It's about the lives, the loves, and the hopes. One by one, part by part. Hung up in the sky along with prayers. Until each of them can fly higher by itself. The Sky the Rain the Rainbow the Sun the Moon. All are talking in their own way. Carving their small footsteps in the history of time. And now each of them can really fly higher by itself, and leave this house one by one...


Aku tidak tahu kenapa. Mungkin semua ini hanya karena banyaknya hal yang membuatku terlalu lelah sejak beberapa hari kemarin. Fisik dan mental. Keduanya dipaksa bekerja terlalu keras hingga melewati batas.

Aku tidak bisa mengingat detail hal-hal yang mungkin menumpuk dan menjadikanku merasa seperti hari ini. Aku hanya ingat hal-hal yang baru aku lewati setengah hari ini. Tidak. Aku tidak berpikir hari ini adalah inti masalahnya. Semua yang terjadi dan membuatku merasa tidak nyaman hari ini hanyalah pemicu.


It wasn’t a good start of a day. Maybe that’s why I feel worse time to time today...


Aku terbangun, atau tepatnya dibangunkan oleh pertanyaan teman sekamarku tentang apakah hari ini aku kuliah atau tidak, dan menemukan bahwa jam di meja telah menunjukkan pukul 7.40 pagi. Padahal, Hujan sedang menginap dan dia harus kuliah jam 8. Dalam waktu 30 menit, aku berhasil membuatnya bangun, mandi, pakaian, dengan tergesa-gesa ke warnet untuk menge-print makalah, dan loncat ke atas ojek menuju kampus. Setelah itu, aku kembali ke kost-an sambil berpikir untuk menge-charge hp Hujan lewat kabel data laptop karena dia lupa membawa charger. Namun, ketika masuk kamar, teman sekamarku meminta izin meminjam laptop mengerjakan tugasnya, padahal dia harus kuliah jam 9. Aku tidak tega untuk tidak meminjamkan, namun aku juga sedikit kesal karena dia justru meminjamnya ketika aku perlu menge-charge, bukan tadi malam ketika kami tidak mengerjakan apa-apa.


Aku pun berpikir untuk menjalankan niatku mencuci pakaian hari ini. Namun, kekesalan bertambah ketika aku sadar bahwa aku lupa membeli detergen sejak beberapa hari lalu. Maka, sambil mengantar seorang teman lain yang semalam menginap ke stasiun, aku akhirnya membeli sebungkus sabun cuci krim. Setelah semua orang berlalu dan hanya aku sendiri yang ada di kamar kost-an, aku pun membereskan kapal pecah yang mereka tinggalkan, menge-charge hp lalu meninggalkannya untuk mencuci baju. Saat membereskan kamar, aku baru sadar bawa ada seikat barang fundraising, yang harusnya aku masukkan ke tas Hujan, tergeletak di lantai. Jadi, aku harus bergegas mencuci, mandi, menjemur pakaian, dan mengantarkan ke kampus, padahal tadinya aku sudah berniat mengerjakan beberapa tugas kuliah dulu sebelum ke kampus dan masuk kelas jam 1. Semakin kesal rasanya, terutama ketika Hujan menelepon menyuruh aku bergegas, padahal saat itu aku sedang menjemur pakaian dan sudah mengerjakan segala-galanya dengan tergesa-gesa.


Tiba di kampus, aku baru menyadari bahwa buku statistik yang seharusnya aku bawa untuk kelas hari ini malah tertinggal di kost-an. Sementara itu, ketika aku berusaha mengerjakan tugas bahasa Belanda yang harus dikumpul besok, aku juga baru menyadari bahwa seharusnya aku membawa kamusnya sekalian, bukan bukunya saja, karena daftar vocabulary untuk menerjemahkan teks di buku tersebut tidak lengkap. Ingin rasanya melarikan diri dengan online, mengingat aku juga sudah cukup sering puasa online akhir-akhir ini. Apa daya, koneksi wi-fi kampus juga sedang tidak bagus...lagi. Kekesalan itu semakin lengkap ketika teman sekamarku meng-sms, meminta aku menitipkan kunci kamarnya yang tertinggal ke penjaga kost-an, padahal aku sudah di kampus. Aku sudah bilang, dia harus singgah ke fakultasku dan mengambil kunci kamarku saja secepatnya karena aku sudah di kampus dan harus masuk kelas jam 1. Namun, hingga kini dia belum datang.


Menyebalkan. Aku merasa semua hal-hal kecil menumpuk menjadi sakit kepala tak tertahankan hari ini. Aku jadi enggan berbicara, dan diam dengan kening berkerut. Seorang teman bertanya, ”Kamu kenapa, sih, hari ini? Kelihatannya seperti sedang depresi or something.”


Ya, Kawan.


Mungkin aku memang sedang depresi.


Entah kenapa.



October 13th, 2009

12.38 P.M.

1 loves:

itu ialah detik permulaan hidup dewasa kamu..terlupa segala..udah tua kamu tu..
peace!

In the living room