The Sky is High

It's just a box of pieces of a puzzle about a small circle of friends. It's about the lives, the loves, and the hopes. One by one, part by part. Hung up in the sky along with prayers. Until each of them can fly higher by itself. The Sky the Rain the Rainbow the Sun the Moon. All are talking in their own way. Carving their small footsteps in the history of time. And now each of them can really fly higher by itself, and leave this house one by one...

Keeps moving on!



Tiga kata sederhana itu laksana tasbih yang ku-dzikir-kan di setiap langkahku. Ya. Meskipun waktu telah sekian lama berlalu, aku saat ini masih berada dalam proses. Proses apa? Ya, proses moving on itu tadi. Proses menjadi diriku sendiri yang baru dan lebih baik daripada sebelumnya. Sulitkah? Tentu saja. Jika tidak, tentu saat ini aku sudah berada di garis finish dan menikmati hasil. Bukan masih berproses.

Aku juga ingin bisa maju. Hujan telah membuktikan bahwa dia mampu. Luna bahkan sudah lama menjelma Pluto yang, konon katanya, merupakan satelit yang melepaskan diri dari orbit planetnya. Aku ingin bisa seperti mereka berdua. Aku tidak ingin terus tertinggal.


Aku ingin maju. Meninggalkan masa lalu. Namun, tidak melupakannya. Kenapa? Karena masa lalu terlalu berharga. Terlalu mahal. Tidak terhitung banyaknya tetes airmata, tikam sakit, dan teriak amarah yang telah kukeluarkan untuk mendapatkannya. Masa sekarang mau dibuang begitu saja? Selain itu, yang lebih penting, masa lalu tidak boleh dilupakan agar bisa dipelajari. Semua orang tentu tahu bahwa masa lalu tidak mungkin diperbaiki. Hal yang bisa dilakukan adalah belajar dari kesalahan di masa lalu dan berusaha tidak mengulanginya di masa depan. Namun, saat sebagian besar orang hanya bisa berkata-kata dan berteori tentangnya, aku berusaha menjalankannya. Walk the talk! Tidak mudah memang. Namun, bukannya tidak mungkin bisa, right?

Maka, di sinilah aku. Terus men-dzikir-kan mantraku sambil melangkah menaiki tangga kehidupan. Harus terus naik, sebab tangga turun takkan membawaku ke tujuan akhir. Di sana, entah sejauh apa, ada seseorang yang sedang menunggu dengan sepotong cinta di tangannya. Wanginya telah memanggil-manggilku sejak lama, namun mungkin aku yang terlalu bodoh sehingga tidak berusaha menggapainya.

Di sinilah aku. Menaiki tangga kehidupan sambil terus men-dzikir-kan mantraku. Masa bodoh lah kalau ada yang bilang aku sesat. Yah, mudah-mudahan saja tidak ada ormas yang lantas berdemo dan mengobrak-abrik kamarku. Hei, pembawa cinta! Tunggu aku, ya! Entah berapa lama baru aku bisa sampai ke tempatmu. Entah berapa langkah lagi hingga aku bisa menemukan dan menatap matamu. Tapi, tunggu, ya! Aku sekarang sedang berusaha, lho!


July 5th, 2010
2.13 A.M.

8 loves:

Anonim mengatakan... 6 Juli 2010 15.39  

sky, teruslah berusaha.
jadilah langit yang tinggi..
yang idah dipandang mata..

-RH-

Tangga naik, naik, naik terus sayang. Aku juga naik, di tangga yang sama. Melambai ke arahmu. Kita naik sama-sama, ya.

Hujan menjelma air

@ RH: Aaamiiin... I'm trying. Ini sedang berusaha...^_^) Terima kasih, ya, untuk motivasinya.

@ Hujan: Ini terus naik. Tapi, tangganya ga sama, Say. Hanya berdampingan. Seperti jalan yang pernah kita lalui. Tidak pernah sama. Hanya bersisian. Dan sekali dua kali bersilangan sehingga kita bisa bertemu. Tapi, ya, sama2 semangat, ya, naiknya. Salam buat malaikatmu.

Anonim mengatakan... 7 Juli 2010 19.53  

@ hujan : :)
kamu baik sekali. teruslah menjadi hujan yang memberikan air kehidupan..

@ sky : terus berusaha... !!!

-RH-

Anonim mengatakan... 8 Juli 2010 19.09  

kita tidak mungkin bisa melupakan masa lalu karena masa lalulah yang membawa kita bisa sampai di sini, saat ini.
semoga yang terbaiklah yang terjadi.

semangat terus ya, sky..

salam kenal :)
~mare~

@sky... iya... jalan yang bersisisian... tangga yang sama, tangga kayu seperti mainan di ular tangga kan? tangga kita bersisian, kadang bersilangan, jadi kapan-kapan kita bisa bertemu... ingat janji 10 tahun lagi, kan?

@RH : how can't I? pray for me...

@sky : Pluto? belum cerita-cerita tentang pluto btw. Dzikir mantra. Rapallah dengan cepat tapi tak tergesa.... jari-jariku juga tengah belajar meraba mantra yang berbeda, say...

@ RH: Masih terus berusaha...\(^_^)/

@ Mare: True. Totally agree with you...^_^) Salam kenal juga, ya.

@ Hujan: Masih ingat, kok. Yah, mudah2an saat itu kita masih hidup. Btw, Pluto itu bukan cerita baru, kok. Cuma perumpamaan yang terlintas tiba-tiba di kepala.

In the living room