The Sky is High

It's just a box of pieces of a puzzle about a small circle of friends. It's about the lives, the loves, and the hopes. One by one, part by part. Hung up in the sky along with prayers. Until each of them can fly higher by itself. The Sky the Rain the Rainbow the Sun the Moon. All are talking in their own way. Carving their small footsteps in the history of time. And now each of them can really fly higher by itself, and leave this house one by one...


Aku berhenti di tiap ujung jalan, aku berhenti di tiap sudut ruang, dan mencari. Ada kunang-kunang berkerlap, ada bayang-bayang berkerlip. Kunang-kunang yang tak bisa terbang karena tubuhnya yang mungil tersangkut di jaring laba-laba tipis, seperti bayang-bayang yang masih tertinggal di dalam kenangan.

Aku beranjak mendekat, kunang-kunang yang berkerlap lemah, dan mungkin laba-laba besar mengintipku di balik gelapnya semak kala malam. Aku mengoyak sarang laba-laba yang tipis yang mengikat kunang-kunang itu erat, benang putihnya menggantung di jemariku.
Sekarang kunang-kunang itu terayun, ke kiri, ke kanan, kemana entah. Aku senang, sangat senang, baru kali ini aku bisa menangkap kunang-kunang dengan tanganku sendiri. Baiklah, dibantu benang tipis sang laba-laba yang entah tengah menjelajah kemana.

Kunang-kunang dan bayang-bayang, kunang-kunang melayang, bayang-bayang berkubang. Sementara ia terayun, aku menatapnya seperti terhipnotis, kiri-kanan, kerlap-kerlip. Ada yang kurang. Ada yang hilang. Ada yang aku tidak temukan, ada kebahagiaan yang serentak reda, serentak sirna.

Aku menggigit bibir, meringis. Aku tidak menemukan kesenanganku lagi. Aku menemukan diriku dalam sosok mungil kunang-kunang kecil. Seperti sosok yang tersenyum dari mana entah, sendirian, berayun-ayun, meredup, meredam, terikat. Seperti aku yang terikat benang-benang tipis kenangan yang tak terlihat, namun aku tidak bisa bergerak, tersangkut, kembali ke dalam bayang-bayang tipis yang merantai tangan dan kakiku. Semakin aku memberontak, semakin aku tersangkut dan tertarik masuk, semakin benang-benang kenangan merantai hingga ke lengan, kemudian membalut sekujur tubuh, seperti laba-laba yang dengan tekun memintal tubuh kunang-kunang kecil itu menjadi pupa, sebelum habis disantapnya.

Akh, kenangan dan bayang-bayang. Sudah tidak ada yang akan mendengar tangisanmu lagi, sudah tidak ada yang akan mengelus kepalamu, atau memeluk tubuhmu yang menggigil, atau mengucapkan selamat malam dan selamat tidur, dan berharap malam ini akan memimpikanmu. 

Namun aku tau, tidak ada yang dapat menerimanya, termasuk kamu, maka kamu memberontak, dan semakin cepat kamu terikat, dan tenggelam. Kamu bahkan membantu memintal benang untuk menutupi keseluruhan tubuhmu, terapung-apung dalam bayang-bayang, menggantung harapan yang mempersempit ruangmu bernafas. Kamu mulai merajut mimpi-mimpi lagi, kamu mulai berangan-angan, dan kamu tertidur pulas. Lelap, sangat lelap dengan sisa oksigen yang semakin menipis, dan tak ingin terjaga. Karena kamu begitu mencintai bayang-bayang yang akan selalu membuatmu melayang, karena kamu terlalu mencintai bayang-bayang yang sebentar lagi menghilang.


Kunang-kunang kecil itu kulepaskan ke balik semak-semak yang benderang.
Ia mungkin saja mati karena sudah melupakan caranya terbang.

3 loves:

Anonim mengatakan... 7 Januari 2011 21.10  

Please..don't hurt de angelo just b'coz u cant forget sky

tidak, aku tidak menyakitinya. Ini metafora untuk orang-orang di luar sana yang masih mengikat dirinya dan memberontak keras melawan bayang-bayang,

mereka akan semakin terikat.

Aku tidak akan menyakitinya karena tidak mampu melupakan Sky.

No, it's a big no.

wew...like this, anonim! boleh kenalan ga? HAHA.

tenang aja, slama ini gw ga masalah kok dengan masa lalu Hujan. gw menghargai setiap masa lalunya. karena tanpa masa lalu, gw belum tentu menemukan sosok Hujanku tercinta yang seperti sekarang ini. Karena seperti ada tertulis: Pengalaman merupakan GURU TERBAIK dalam kehidupan ini.

Love you, Hujan..

In the living room