The Sky is High

It's just a box of pieces of a puzzle about a small circle of friends. It's about the lives, the loves, and the hopes. One by one, part by part. Hung up in the sky along with prayers. Until each of them can fly higher by itself. The Sky the Rain the Rainbow the Sun the Moon. All are talking in their own way. Carving their small footsteps in the history of time. And now each of them can really fly higher by itself, and leave this house one by one...


Seorang kenalan yang sangat baik di masa lalu pernah berkata, "You have such a big heart, Sky".

Hari ini aku mengingat kalimat itu, dan berpikir: Yes. Maybe I do have such a big heart. But it's sticky. A big sticky heart that won't let anyone who's been sticked to it go. Even if it's just for a little while.

Aku bertengkar lagi dengan Hujan hari ini. Kata Arco dan Luna, pertengkaran di antara kami sepertinya meningkat akhir-akhir ini, sejak angka dua belas terlewati. Aku bilang tidak. Sejak awal, kami sebenarnya memang sering bertengkar. Bedanya, dulu pertengkaran itu hanya berlangsung di hadapan dua wajah: aku dan Hujan. Sekarang, pertengkaran itu sering terjadi ketika ada orang lain. Ya. Orang lain.

Penyebabnya sebenarnya sederhana: orang lain. Well, yah, orang lain plus kenyataan bahwa ternyata aku sangat posesif, gampang jealous, dan semakin sensitif ketika lelah. Sejak sekitar sebulan yang lalu memang ada satu nama yang sering aku jadikan kambing hitam dalam pertengkaran kami. Sebut saja "si A". Seorang teman. Seorang laki-laki.

Tadinya si A adalah salah satu teman favorit aku dan Hujan. As far as we know, dia hetero, dia tidak tahu apa-apa tentang hubungan kami, tetapi dia salah satu yang sangat menunjukkan support yang besar pada kedekatan kami. Awalnya, dia lumayan dekat dengan kami berdua. Akhir-akhir ini intensitas keberadaannya di sekitar kami juga semakin meningkat. Mungkin sejak aku mengikutsertakan dia dalam acara makan-makan pada hari ulang tahunku. Awalnya, kami sama-sama menganggap dia teman yang baik, menarik, cool, dan menyenangkan. Awalnya...

Semua mulai berubah ketika aku (dan mungkin ini hanya karena sempitnya pikiranku saja) merasa dia semakin dekat dengan Hujan.

Beberapa minggu yang lalu, dia mengajak aku dan Hujan ikut dengan divisinya menyebar poster acara organisasi kami ke sekolah-sekolah. Aku menolak ikut meskipun katanya akan selesai sebelum dzuhur. Laptopku sedang error dan ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Aku tahu Hujan sudah lama tidak jalan-jalan jauh dan ingin ikut. Karena itulah, aku yakinkan dia untuk ikut tanpaku. Namun, ternyata rencana berubah. Jumlah sekolah yang mereka kunjungi lebih banyak dan semuanya tidak mungkin selesai sebelum dzuhur. Maka, beberapa kali aku mengirim sms mengingatkan Hujan untuk tidak lupa makan. Akan tetapi, hari itu berakhir dengan Hujan pulang pukul delapan malam dan sakit karena dia baru makan tepat sebelum pulang. Padahal, sebelumnya, dia belum makan sama sekali sejak pagi.

Sejak saat itu, aku merasa si A tidak lagi semakin dekat dengan kami berdua. Si A semakin dekat dengan kami, namun sedikit lebih intens mendekati Hujan. Mulai dari ngobrol tentang sebuah acara camping yang ingin Hujan ikuti tetapi aku tidak, makanan yang dibagi dengan Hujan tapi tidak denganku, hingga sms-an membahas game di salah satu malam sebelum ujian tengah semester hingga pukul setengah tiga pagi. Masalah ngobrol dan makanan itu memang hal kecil. Mungkin aku saja yang terlalu sentimen. Masalah sms-an itu pun mungkin memang disebabkan karena malam itu aku tidak kuat lagi begadang dan memilih tidur lebih dulu sementara Hujan masih belajar sendiri. Menurut Hujan, dia butuh teman agar bisa tetap terjaga mempelajari buku kuliah tebal nan membosankan. Akan tetapi, sejujurnya, aku merasa terancam.

Puncaknya adalah pada hari H pertama dari dua hari rangkaian acara yang diselenggarakan oleh organisasi kami akhir bulan lalu. Sebelum berangkat dari kost-an Luna, tempatku menginap, aku berbicara di telepon dengan Hujan yang sedang menunggu kereta di stasiun. Kami membuat janji untuk sarapan bersama. Aku tahu Hujan pasti akan terlambat tiba di kampus karena keretanya mungkin masih lama datangnya. Kami telah memperkirakan hal itu. Namun, setidaknya aku berpikir bahwa dia akan langsung datang ke kampus dari stasiun. Akan tetapi, ternyata aku salah. Ketika aku hubungi pada pukul 9 pagi, dia malah berkata bahwa dia sedang ada di salah satu jalan (yang jelas bukan jalur kereta) dan akan lebih terlambat karena salah melewati satu jalan tol.

"Kok bisa sampai di sana?" tanyaku bingung.
"Iya, tadi harus ngambil bass-nya si O dulu di Xyz. Tapi, pas mau ke kampus, kelewatan satu jalan tol."
"Memangnya kamu bareng siapa?"
"Si A."
"Berdua saja dengan si A?"
"Tapi..."
"Aku tanya, berdua saja dengan si A?"
"Iya..."
"Kok kamu nggak bilang dulu pas sampai di kampus? Aku kan nungguin!"
"Aku kan gak pernah sampai di kampus, Sayang."
"Lho? Jadi kamu ketemu dan dijemput si A di mana?"
"Di stasiun Xxz."
"Kok kamu nggak bilang-bilang?"

Pembicaraan pun dilanjutkan dengan penjelasannya bahwa si A dapat tugas mengambil bass si O, tapi dia tidak tahu arah ke tempat si O. Oleh karena itu, si A bertanya pada Hujan lewat sms. Merasa kasihan karena si A harus pergi sendirian, dan kemungkinan tersesatnya besar, Hujan pun menawarkan diri ntuk menemani, dan minta dijemput satu stasiun sebelum stasiun tujuan. Namun, hari itu aku terlanjur marah besar. Aku berkeras bahwa Hujan seharusnya bisa bilang lewat sms sehingga aku tidak perlu menunggu dan bisa mengingatkannya untuk makan di jalan.

Sebelum Hujan sampai, aku sempat bercerita sambil setengah marah ke tiga orang teman, dan didengar oleh salah satu kakak senior. Belakangan, kakak itu bertanya pada Arco tentang bagaimana sebenarnya hubungan aku dan Hujan sebenarnya. Menurut si kakak, sedekat apapun persahabatan aku dan Hujan, tetap saja tidak wajar jika salah satu dari kami marah karena yang satu lagi pergi atau jalan dengan orang lain. Ketika mendengar tentang hal itu dari Arco, aku rasanya mau mendatangi si kakak dan berteriak di depan mukanya:

"GW BUKAN SAHABATNYA! GW PACARNYA! SEKARANG WAJAR GAK KALO GW MARAH!?"

Topik mengenai si A memang aku angkat beberapa kali dalam pertengkaranku dan Hujan. Lalu, dibalas dengan topik mengenai aku dan Luna yang kembali dekat akhir-akhir ini. Tapi, semua itu harusnya sudah berakhir, and we should just drop the conversation off, seperti pernyataan Hujan. Sejak hari H kedua dari acara organisasi kami, si A tampaknya menemukan seorang perempuan yang sangat dia sukai. Perempuan itu adalah anggota salah satu kelompok pengisi acara. Si A terkesan obsessed dengan perempuan itu. Status Facebook dan apa yang akhir-akhir ini dia bicarakan selalu tentang perempuan itu.

Meskipun demikian, aku tidak yakin. Seperti kata-kata Hujan pada seorang teman, "Ada orang yang kita mau, dan orang yang kita suka." Mungkin berawal dari ketidakyakinan itulah maka hari ini, hari di mana harusnya topik mengenai si A tidak lagi menjadi masalah, aku kembali bertengkar dengan Hujan. Masalahnya sebenarnya sederhana: si A lagi-lagi sms-an dengan Hujan.

Hari ini, ketika aku sedang ada kelas dan Hujan tidak, Hujan makan dengan seorang teman lelakinya. Dia memang sudah bilang sejak minggu lalu dan aku sudah setuju. Aku mengatakan tidak apa-apa, bahkan memotivasi Hujan untuk tetap pergi ketika dia sudah sangat bete menunggu si teman yang tidak juga datang meski sudah lama ditunggu. Namun, aku sangat berharap dia bisa pulang sebelum acara screening film di kampus agar kami bisa duduk bersebelahan dan menonton film itu bersama. Hujan memang datang sebelum acara itu, bahkan sebelum kelasku selesai. Dia juga ingat untuk membawakan sup yang aku pesan. Saat screening, Luna, Hujan, aku, dan Arco duduk sebaris. Namun, sebelum dan beberapa saat setelah film mulai diputar, si A meng-sms Hujan. Sms pertama menanyakan tempat duduk yang kosong, Sms berikutnya membahas tokoh utama wanita yang dihubungkannya dengan si perempuan yang dia taksir akhir-akhir ini.

Aku tidak marah pada Hujan, tapi pada si A. Kenapa dia harus meng-sms Hujan, membahas hal yang menurutku tidak penting? Kenapa dia tidak ngobrol atau sms-an saja dengan orang lain untuk membahas hal itu? Kenapa harus di tengah-tengah acara screening film yang sudah lama aku harapkan bisa ku tonton bersama Hujan? Namun, kemarahan itu akhirnya menular juga dalam bentuk kekesalan pada Hujan. Kenapa sms-nya harus dibalas? Kalau memang merasa terganggu, kenapa tidak didiamkan saja? Kalau dibalas, kan, jelas si A akan mengirim sms balasan lagi!

Aku menegur Hujan, mengatakan bahwa sms si A tidak usah dibalas kalau memang merasa terganggu. Dua kali. Akhirnya, aku merasa kesal sepanjang film. Hanya mengiyakan permintaan maaf Hujan tetapi tidak menanggapi tangannya yang berusaha menggenggam tanganku ataupun kepalanya yang disandarkan padaku. Hingga film berakhir, aku tetap kesal. Mungkin pengaruh hormon karena aku sedang halangan. Mungkin pula karena akunya saja yang memang keras kepala.

Hal ini berujung pada sebuah pertengkaran antara aku dan Hujan selama sedikitnya dua jam di kampus. Hujan merasa aku tidak sadar bahwa selama ini dia cuma mencintai aku dan bahwa akhir-akhir ini dia selalu menyanyikan lagu Brown Eyes-nya Beyonce untukku. Aku bilang aku tidak meragukan perasaannya, tetapi sikapnya. Aku merasa kesal karena dia merasa perlu menanggapi sms tidak penting dari si A ketika sedang bersamaku. Sederhana memang, dan seharusnya aku tidak perlu bertengkar berjam-jam karena hal itu.

Namun, jujur, aku memang merasa sangat terancam. Kenapa? Karena si A laki-laki. Karena si A teman kampus. Karena si A baik, tampan, menarik, humoris, dan menyenangkan. Karena jika dia memang tertarik pada Hujan, aku tidak bisa datang ke hadapannya, menyuruhnya back off. Karena aku tidak bisa berteriak di depan mukanya mengatakan:

"HUJAN ITU PACAR GW, DAN GW GAK SUKA LU PERGI BERDUA ATAU SMS-AN DENGAN DIA!"

Karena aku bukan lelaki...

Ada sebaris kata-kata yang sudah sangat ingin aku lontarkan pada si A belakangan ini tetapi selalu aku tahan. Malam ini, ketika aku melihatnya di salah satu kantin sedang duduk di samping Luna, tanpa memedulikan pengunjung yang lain, kata-kata itu terucap.

"A, gw cuma pengen bilang satu hal."
Dia menoleh.
"Akhir-akhir ini gw benci banget sama lu. Jangan ngomong dulu sama gw, ya."

Dia dan Luna sama-sama bengong. Dia mungkin bingung tidak mengerti. Luna mungkin terkejut karena aku tiba-tiba mengatakan hal itu di depan wajah si A. Aku tidak peduli. Mungkin orang-orang berpikir bahwa aku tidak pantas berkata begitu pada si A. Orang yang tahu masalah di balik semuanya mungkin berpikir si A tidak seharusnya aku perlakukan seperti itu. Si A, kan, tidak tahu apa-apa. Sementara itu, orang-orang yang tidak tahu mungkin akan berpikir bahwa aku aneh, aku lesbian, dan aku tidak berhak marah hanya karena si A sms-an dengan Hujan. Namun, aku tidak peduli. Entah akan bagaimana jadinya kehidupanku di kampus besok. Aku tetap tidak peduli. Aku tahu ada sedikit puas dan lega ketika akhirnya ku ucapkan kata-kata itu, right on his face. Maaf. Tapi, ya. Aku puas.

Malam ini aku memaksa Hujan menginap di tempat Luna. Pertama karena dia memang sudah membuat janji dengan Luna. Kedua karena dia merasa tidak ingin berbaring di atas tempat tidur yang sama denganku malam ini. Dia butuh waktu untuk berpikir, untuk sendiri, dan untuk menjadi dirinya sendiri, katanya. Sebelum dia kembali menemuiku, dan behave. Tidak menjadi dirinya sendiri. Dia merasa tidak dapat hidup tanpaku, tetapi dia tidak merasa bisa menjadi dirinya sendiri ketika bersamaku. Jadi, dia butuh waktu untuk sendiri dulu. Untuk menjadi dirinya. Tanpaku.

Entah apa yang akan terjadi besok. Entah akan bagaimana hubungan antara aku dan Hujan. Aku tidak tahu. Aku hanya bisa berharap bahwa pertengkaran malam ini, seperti halnya pertengkaran yang sudah-sudah, dapat kami lewati. Lalu, kami akan bisa tertawa bersama lagi. Tapi, entahlah... Dengan semena-mena semua keputusan aku letakkan di tangan Hujan. Biarlah dia yang memilih: ingin tetap menggenang di awan, atau turun meninggalkan Langit...

(Oh, ya...malam ini aku kembali merasa ingin mati... Kira-kira cara mati yang bagaimana yang memberikan rasa sakit paling sedikit, ya...?)


November 11th, 2009
2.34 A.M.

4 loves:

Anonim mengatakan... 11 November 2009 03.19  

komentar 1 : tentang isi tulisan.
semoga keadaan cepat membaik :)

komentar 2 : tentang kalimat di akhir tulisan.
gw nggak suka sama orang yang masih sempat-sempatnya memikirkan tentang cara untuk mati. itu nilai yang gw anut dan maaf untuk nilai yang satu ini gw akan sangat terpaksa gw terapkan pada orang lain. karena ketika salah seorang yang lo kenal mati karena bunuh diri, itu rasanya sakit banget. dan gw yakin temen-temen lo juga akan merasa demikian. lagian, tinggal di ruangan sempit berukuran 2x1 meter itu nggak enak.

Semoga semuanya lekas sembuh eh clear. :-)

aku sedih melihat kalian bertengkar...
:(

doa aku sentiasa untuk kamu sky&hujan

In the living room