The Sky is High

It's just a box of pieces of a puzzle about a small circle of friends. It's about the lives, the loves, and the hopes. One by one, part by part. Hung up in the sky along with prayers. Until each of them can fly higher by itself. The Sky the Rain the Rainbow the Sun the Moon. All are talking in their own way. Carving their small footsteps in the history of time. And now each of them can really fly higher by itself, and leave this house one by one...


Ada bau manis yang menyeruak pagiku.
Aku berjingkrak-jingkrak keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk merah tipis yang melingkari tubuhku seadanya. 
Aku mencium bau hujan akan turun, namun tetap mengubek-ubek lemari bajuku dan menemukan warna merah muda di tumpukan baju.

Baiklah, hari ini merah muda nyala-nyala, dan waktu berjalan lebih santai dari biasanya. 
Kereta mengulur waktunya, bergerak lambat-lambat, akh, aku terlambat 15 menit, sepertinya. Tapi ternyata langkah-langkah kaki juga melambat, membiarkan hujan mengguyur dan menciumi bumi dengan nikmat. Dosen kelas baru masuk pukul 9 pagi, kelas asesmen klinis, dingin, dan mulai mengantuk. 
Aku tersenyum, hari ini aku sudah menelponmu pagi-pagi, dan aku masih bisa merasakan hangatnya suaramu di ujung telepon, membuka kembali kado berbungkus pink dan berpita besar. Akh, betapa di pagi seperti ini, aku ingin berguling lembut di tempat tidur dan memelukmu erat, menghabiskan waktu menciumi setiap inchi tubuhmu hingga lemas.

Tapi ternyata aku tersangkut disini, dan kamu disana, tapi kita selalu punya banyak hari-hari berdua. Sesak rasanya, karena aku masih bisa menciumi wangi lembutmu yang masih tersangkut di tiap inchi tubuhku.

Happy February 14th, honey. Masih ada happy February 15th, February 16th, karena setiap hari adalah hari-hari super spesial saat aku bersamamu.

*diam-diam ingin mencuri kecup pipimu

In the living room