Good night, Freya Valkyrie. Your love for Loki is no longer exist.
Good night, Freya. No need to settle down your heart looking for Brisingamen.
Good night Lady Freya, war is nowhere but your head, war is nowhere but your heart.
Good night, thank you for your help, I love every inch of you, as I love mine.
But Milady, heart is nowhere but in my beloved's.
I am my beloved's and my beloved is mine
dan... bagaimanapun aku marah padanya, entah kenapa aku tak pernah bisa melepaskan ia dari pelukku.
Tuhan, aku mau berdoa
Tuhan, aku ingin punya imam. Aku ingin punya imam saat aku bersujud kepada-Mu, saat aku mengangkat kedua tanganku dan menundukkan kepalaku saat berdoa, dan saat aku mencium tangan lembutnya sebelum melipat sajadahku. Atau saat menciumi kepala anak-anakku yang masih belajar mengeja A-Ba-Ta
Tuhan, aku ingin bangun sahur lebih awal untuk memasakkan makanan untuk suamiku dan anak-anakku. Aku ingin sibuk menyiapkan tajil sebelum suamiku pulang kerja, dan saat anak-anakku sibuk berebut remote TV menonton film kartun kesukaan mereka.
Aku ingin bisa melihat mereka manyun kelaparan saat melihat detak-detik jam yang melambat. Ingin menyiapkan sajadah sebelum mereka berlarian menuju masjid di dekat rumah untuk tarawih.
Ingin membangunkan mata-mata kecil yang menahan kantuk pada jam 3 pagi, dan menyuapi mereka perlahan-lahan, sampai menidurkan mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Aku ingin menemani mereka mengangkat bahan makanan --beras, minyak, mi, gula, kecap,
yang setiap tahun dibagikan untuk mengajarkan mereka berbagi dengan tulus dari rumah ke rumah.
dan mengajak mereka membuat kue kering, sambil mengganggu mereka dengan tepung dan gula di dekat pipi mereka yang bulat.
Aku mau mengajak mereka mengisi ketupat, meskipun beras berserakan dimana-mana, dan membangunkan pagi-pagi untuk menyantap makanan sebelum sholat ied berlangsung.
Aku akan menggandeng mereka pulang, dan membiarkan mereka mencicip kue lebaran satu per satu, setelah mereka menciumi kedua orangtuanya dan meminta maaf, seraya aku membelai lembut rambut mereka dan menciuminya tak henti.
Tuhan....
aku tak ingin mengamini doaku sendiri.
Luka di tangan karena pisau, luka di hati karena kata
Akh, aku payah.
Aku lebih senang ditampar daripada harus mendengar kata-kata kasar.
Puasa-buka-ngen***-besoknya puasa lagi.
Berasa suci aja.
Munafik.
Piaraan-piaraan kamu.
Kamu harusnya malu.
Muak.
Kamu memang... artis.
Silakan olahraga ranjang bersamanya.
Good job, go get him, play with his d*ck
Kamu ga ada usaha. Lagi-lagi.
Maaf aku ga denger. Mungkin maknyanya ketutup sama segala jawaban dan argumen kamu.
Kamu ga perlu tau
Ngajak aku ke dance floor, dan aku mabok, ga tau lagi ngapain. Atau ngajak aku ke kamar.
Bullshit.
Putusin aja
Bajingan
dan ketika semua kata-kata itu keluar dari bibir seseorang yang selalu aku sayang...
rasanya seperti...
entahlah...
Kalender di meja kerjaku sudah melapuk. Ah, sudah berapa lama aku tidak memeriksanya?
Bulan Juli sudah datang, waktu sudah terlalu lama mempermainkan aku rupanya...
Badai bulan Juni sudah berlalu. Mungkin beberapa tanaman akan koyak. Mungkin beberapa bahkan sudah tidak terselamatkan
atau mungkin beberapa benih akan tumbuh setelah dibawa badai jauh kemana
Aku ingat kalender harian di rumamu, kalender kertas zaman dulu dimana kamu harus menyobek halamanya setiap pergantian hari.
Sudah setahun, dan aku berupaya masih dengan setia menyobek rindu yang makin hari makin menumpuk dengan pekerjaan setumpuk.
Kamu ingat bunyi gemuruh yang tiba-tiba datang di tengah siang yang terik?
Rasanya seperti rindu yang bisa tiba-tiba menusukmu dari belakang.
Kamu hanya diam, membiarkannya menancap perlahan sembari merasakan perihnya perlahan.
Mungkin aku bisa mati karena merindumu.
Hanya karena merindumu.
Sudah setahun berlalu, sayang.
Apakah aku jadi lebih pemarah?
Apakah aku terlihat lebih cuek?
Atau kamu tidak bisa menemukan alasan kenapa aku menarik di matamu?
Apakah rasa melapuk seperti kertas kertas yang makin bertumpuk?
Atau tidak ada hal-hal kecil yang manis setiap hari?
Atau aku hanya tidak mengerti apapun tentangmu?
Mungkin aku tidak secantik waktu pertama kita bertemu, setahun lalu?
Aku menekan-nekan kepalaku yang berdenyut. Berapa lama lagi aku harus menahan tangis ketika harus melambai pergi dari pelukanmu?
Sayang, ini bukanlah surat yang sempurna yang dibangun dengan kata-kata mutiara.
Aku tidak bisa.
Tidak bisa tidak mencintaimu.
Setahun lalu, genggam yang berbeda, cinta yang sama, bahkan lebih besar setiap harinya
sudah berapa lama aku kehilangan otak?
seharusnya dia terbang, seharusnya dia pulang
karena sayapnya sudah gerah bersarang
Ah, sudah berapa lama aku tidak berotak?
Sudah berapa lama dia tidak berontak?
sudah berapa lama aku membiarkan dia,
aku tahu apa yang selama ini membuatku kaku.
Aduh, aku tertampar. Merasa tertampar.
Lukaku tidak seberapa dibanding lukanya.
Halo, sayap-sayap putih gading yang luar biasa. Lihat, sayapmu sudah tumbuh menjulang ke angkasa.
Saya undur diri, mungkin katamu ini adalah sebuah drama.
dan saya harus belajar realita, kalau-kalau saya hanya tempat persinggahan sementara.
Bulan ini aku diuji dengan setumpuk makalah dan ujian tertulis super parah di akhir semester, ditambah kompre, dimana aku harus mempertanggung jawabkan alat ukur layaknya mempertanggung jawabkan skripsi di depan 2 dosen penguji. Ini adalah ujian nomer 1.
Karena kamu selalu mengirim doa dari ujung sana yang selalu masuk lewat getaran HP ketika aku sedang ujian.
"ALL THE BEST!" katamu.
Karena aku sempat mencuri waktu mepet sebelum ujian dengan belajar dan mengulang2 bahan saat kamu pergi kuliah dan meninggalkanku sendirian di kamar.
Merenung.
Eh, membaca slide, merangkum, mengulangnya, bahkan di bus perjalanan pulang ke jakarta. Hal itu adalah kompensasi aku yang melarikan diri ke tempatmu untuk menemuimu, sih.
Kamu tidak mungkin lupa dengan kecemburuanmu dengan lelaki yang pernah aku taksir waktu SMP ini dan mulai mendekati aku sekarang-sekarang ini.
Oknum yang satu ini memang cool, baik, perhatian, dan bikin kamu pusing kepala kalau aku lagi wawancara dengan dia, lagi jalan, dijemput atau makan dengan dia.
Karena setiap kali bertemu dengannya, aku membahas pacarnya, atau pacarku, yang sudah dia lihat fotonya di Facebook, ketika aku menulis in a relationship with you, di facebook asli, ya sudahlah.
Dan jangan pusing pusing kepala, aku suka flirting tapi tidak suka dia karena dia tidak bisa menulis Immediate dengan menggantinya dengan Immadiate, dan banyak kesalahan penulisan bahasa Inggris lainnya, luntur deh coolness and kindness nya.
Lagipula, kalo aku jalan-jalan sama dia, aku jalan untuk nyariin headset bluetooth buat kamu, beliin buku kuliah buat kamu, terus kamu kamu kamu kamu kamu dehhhh.
Mungkin karena aku terlalu sexy, darling. (Kecup kamu ahhh).
Dengan lelaki satu ini yang kualitasnya oke punya.
Tapi ooh sayangku, dia memang sering sms aku untuk bilang semangat ujian ini itu, tapi tidak ada yang mengalahkan dahsyatnya kegantenganmu dan caramu yang berbeda untuk memberiku semangat.
Jadi aku lulus ujian nomer 3 nih yaaaa...
Ujian nomer 4 yang paling berat adalah Kangen.
Rindu.
Iya, bayangkan betapa sibuknya dan berbedanya jadwal ujian kita sehingga kita tidak bisa bertemu.
Ah, aku kan rindu pelukmu, kecup lembutmu, kamu.
Ujian nomer 4 paling berat karena kita terbiasa untuk bertemu minimal 2 minggu sekali.
Nah, kalau tidak bertemu lebih dari itu?
Huaaa. Aku kangen. Ini mah tidak bisa lulus ujian kalau begini.
Karena aku tidak mau, lebih baik lolos saja minimal.
Aku tidak lulus ujian nomer 4 dengan sempurna.
BUK! Aku merebahkan diri di tempat tidur setiap melihat ke tumpukan tugas yang tak kunjung usai dan tidak berniat kukerjakan. Badanku lemas melihat modem Speedy yang rusak, dan laptop yang cenat-cenut.
Aku menutup mata. Membayangkan kalau jari-jemari ini masih punya waktu untuk menciumi keyboard dan mengetik dengan otomatis. Ah, heaven!
Tapi aku tau aku tidak boleh melewatkan hari untuk kembali menulis. Kalau tidak, ya, seperti ini. Menumpuk seperti lemak di perut..... Aaaaaaaaaaaaaaaaa.....
Aku bingung harus bercerita dari mana. Pokoknya romantis sampai aku kehabisan kata-kata! (alasan)
Kamis itu, hari ulangtahunku. Aku sudah mewek, membayangkan kamu yang datang terlambat, atau bahkan tidak bisa datang. Bukan.... Aku bukan anak manja yang ingin sekali dan mewajibkan pacarnya datang di hari ulang tahunku. Tapi.... aku sudah berjanji dan mem-book ruangan klinis untuk tugas asesmen tes Rorschach yang jarang sekali boleh melibatkan orang luar.. Dan aku sudah menjanjikan teman-temanku akan mendapatkan partisipan super spesial dari Fakultas Kedokteran, pacarku!
Aaah, tahukah kamu, sayang? Aku rasanya ingin menangis saat teman-teman KAUP ku membelikan blueberry cheesecake dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Baru kali itu aku merasa sangat sedih, ternyata diam-diam aku berharap kalau kamu sudah tiba.
Aku menggelung malas. Kuhabiskan waktu berkumpul di ruangan penuh dengan skripsi dan tesis di perpustakaan. Bercerita. Tertawa. Berharap.
Sebelum akhirnya kamu muncul dan membuatku beku. Literally Freezing!
Gila.
Siapa yang tidak bengong dan bingung ketika melihat pacarnya ternyata bekerjasama dengan teman-temannya dengan sempurna?
Kamu datang dengan sebuah kue dengan lilin berangka 2 dan 0, sekuntum bunga mawar merah yang merekah, dan memetik gitar memainkan lagu "Best in Me"
AKU BERHENTI BERNAFAS!
dan yang bisa aku lakukan hanyalah menepuk-nepuk pipiku, memastika aku masih hidup dan tidak bermimpi, sambil berlari ke arahmu dan memelukmu super duper erat di depan teman-temanku. Masih di ruang skripsi dan tesis perpustakaan. Dasar gila!
Ya, dan kita berhasil membuat teman-temanku iri, dan galau... Hahaha....
Ya, kamu seperti pangeran tampan luar biasa sempurna yang datang untuk menculikku hari itu, dengan kuda putih.... emmm.... mobil deh, dan membawaku pergi. Yay!
Next Destination : Bandung!
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain puja puji syukur diberikan hari libur yang panjang.
20th birthday,
dan 10 montliversary
aku hanya berucap syukur akan cinta yang begitu besar yang sudah diberikan kepadaku, dan kepada kami berdua, sehingga aku tidak meminta apapun selain kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi.
Fiuuuuuh...
Dalam tiupan lilin dan doa samar-samar, aku melihat dunia tersenyum
(Amin)

