The Sky is High

It's just a box of pieces of a puzzle about a small circle of friends. It's about the lives, the loves, and the hopes. One by one, part by part. Hung up in the sky along with prayers. Until each of them can fly higher by itself. The Sky the Rain the Rainbow the Sun the Moon. All are talking in their own way. Carving their small footsteps in the history of time. And now each of them can really fly higher by itself, and leave this house one by one...

Ragu. Ya. Beberapa kali aku sempat ragu apakah menuliskan semua ini dan menge-post-nya di blog adalah keputusan yang bijaksana. Namun, akhirnya aku tetapkan bahwa aku ingin memberitahukan fakta kecil ini pada banyak orang. Tanpa peduli apakah di antara mereka ada yang ingin atau tidak ingin tahu.


Aku sedang menyukai seseorang.


Sangat menyukai. Menyayangi. Bahkan telah belajar untuk mencintainya selama beberapa bulan ini.
Bukan. Bukan Hujan. Aku pernah bilang pada Hujan, dan mungkin juga di blog ini bahwa I take no rebound. Kata-kata itu sempat aku langgar beberapa kali dengan memberi Hujan kesempatan lagi dan lagi saat aku memaafkan dan melebarkan rentangan tanganku untuk menerimanya kembali. Namun, kali ini aku sudah tidak akan melakukannya. Hujan sekarang telah berjalan di depan dengan seseorang yang katanya mencintainya. Seperti apapun naik-turun hubungan yang dijalani, itu kepentingan mereka yang sudah seharusnya tidak aku campuri lagi.

Bukannya aku sudah tidak menyayangi Hujan. Aku masih sangat menyayangi dia, dan justru karena rasa sayang yang begitu besar itulah aku tidak lagi membebani langkahnya dan memilih mengayunkan langkahku sendiri. Aku masih akan menjadi tangan bersahabat yang terulur ketika dia membutuhkan bantuan atau bahu untuk menangis. Namun, tidak akan lagi menjadi matras untuk menahannya ketika jatuh, terutama jika jatuh itu merupakan konsekuensi yang harus dia tanggung atas keputusan yang diambilnya sendiri. Aku ingin tetap menjadi sahabat yang baik. Tidak lebih.

Mengapa? Karena seperti yang sudah aku katakan tadi: aku sedang menyukai seseorang. Dia selalu ada untukku, bahkan di banyak saat aku tidak ada untuknya. Dia menjadi matras yang menangkap ketika aku jatuh, bahkan meski aku tidak pernah menjadi matras yang menahan jatuhnya. Dia adalah wadah yang menampung airmataku saat dia sendiri menyembunyikan airmatanya. Berusaha mengobati sakitku, meski nyaris tak pernah ingin aku tahu sakitnya. Dan dengan sabar dia menunggu hingga aku bisa bersamanya. Bahkan setelah aku putus dengan Hujan hingga saat ini, dia masih menunggu.

Dia tidak pernah ingin mengambilku dari Hujan. Tidak pernah bermaksud demikian. Tidak ingin melakukan demikian. Oleh sebab itulah, bahkan hingga kini, di saat aku sebenarnya bukan milik siapa-siapa lagi, dia juga tidak meraihku. Dia masih menunggu. Dia tidak ingin aku membohongi diriku sendiri dan menghampirinya di saat pikiranku masih dipenuhi oleh kenangan dan bayangan bersama Hujan. Dia tidak ingin menjadi pelarian dan aku pun tidak ingin menjadikannya pelarian. Maka, meski telah beberapa kali aku memintanya menerima cinta yang kupikir telah tumbuh, berkali-kali itu pula dia menolak, dan tetap menunggu.

Apa yang sebenarnya dia tunggu? Dia menunggu hingga aku siap. Hingga aku sampai di ujung tangga. Hingga aku bisa benar-benar bangkit dari jatuhku. Hingga aku bisa benar-benar menjalankan dan menunjukkan apapun yang aku katakan. Dia menunggu. Hingga aku dapat benar-benar melepas remah-remah kenang, bayang, dan rasa yang masih aku genggam. Hingga saat ku bisa benar-benar memeluknya tanpa disibukkan oleh pikiran yang melayang-layang. Menunggu hingga aku siap. Hingga dia pun siap.

Dia dan penantiannya mendorong aku untuk terus berjalan ke depan. Terus naik hingga anak tangga teratas. Tidak peduli seberapa berat beban yang mengikat kaki, tangan, bahkan seluruh tubuh. Dan itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Agar aku bisa tiba di puncak tangga sebelum kesabaran dan waktunya untuk menunggu habis.

Aku sedang menyukainya. Sedang sangat menyukainya.


July 15th, 2010
3.35 P.M.

Keeps moving on!



Tiga kata sederhana itu laksana tasbih yang ku-dzikir-kan di setiap langkahku. Ya. Meskipun waktu telah sekian lama berlalu, aku saat ini masih berada dalam proses. Proses apa? Ya, proses moving on itu tadi. Proses menjadi diriku sendiri yang baru dan lebih baik daripada sebelumnya. Sulitkah? Tentu saja. Jika tidak, tentu saat ini aku sudah berada di garis finish dan menikmati hasil. Bukan masih berproses.

Aku juga ingin bisa maju. Hujan telah membuktikan bahwa dia mampu. Luna bahkan sudah lama menjelma Pluto yang, konon katanya, merupakan satelit yang melepaskan diri dari orbit planetnya. Aku ingin bisa seperti mereka berdua. Aku tidak ingin terus tertinggal.


Aku ingin maju. Meninggalkan masa lalu. Namun, tidak melupakannya. Kenapa? Karena masa lalu terlalu berharga. Terlalu mahal. Tidak terhitung banyaknya tetes airmata, tikam sakit, dan teriak amarah yang telah kukeluarkan untuk mendapatkannya. Masa sekarang mau dibuang begitu saja? Selain itu, yang lebih penting, masa lalu tidak boleh dilupakan agar bisa dipelajari. Semua orang tentu tahu bahwa masa lalu tidak mungkin diperbaiki. Hal yang bisa dilakukan adalah belajar dari kesalahan di masa lalu dan berusaha tidak mengulanginya di masa depan. Namun, saat sebagian besar orang hanya bisa berkata-kata dan berteori tentangnya, aku berusaha menjalankannya. Walk the talk! Tidak mudah memang. Namun, bukannya tidak mungkin bisa, right?

Maka, di sinilah aku. Terus men-dzikir-kan mantraku sambil melangkah menaiki tangga kehidupan. Harus terus naik, sebab tangga turun takkan membawaku ke tujuan akhir. Di sana, entah sejauh apa, ada seseorang yang sedang menunggu dengan sepotong cinta di tangannya. Wanginya telah memanggil-manggilku sejak lama, namun mungkin aku yang terlalu bodoh sehingga tidak berusaha menggapainya.

Di sinilah aku. Menaiki tangga kehidupan sambil terus men-dzikir-kan mantraku. Masa bodoh lah kalau ada yang bilang aku sesat. Yah, mudah-mudahan saja tidak ada ormas yang lantas berdemo dan mengobrak-abrik kamarku. Hei, pembawa cinta! Tunggu aku, ya! Entah berapa lama baru aku bisa sampai ke tempatmu. Entah berapa langkah lagi hingga aku bisa menemukan dan menatap matamu. Tapi, tunggu, ya! Aku sekarang sedang berusaha, lho!


July 5th, 2010
2.13 A.M.


Aku sudah pasti akan menuliskanmu, di sebuah lembaran yang dikata entah di dalam gulungan perkamen yang kusimpan baik-baik di hatiku... Bukan, ini bukan lagi sebuah seserahan suci perjanjian manis itu. Ini adalah sebuah... Umm... Entahlah... tapi mungkin bahkan belum layak diartikan sebagai hadiah.

Suatu hari aku menengadahkan tangan ke atas langit ketika hujan mulai merintik. Menciumi wangi hujan yang singgah ke paru-paruku. Yang aku ingat hanyalah sekali lagi malaikat memberikan kemurahan hatinya padaku... Ia menunaikan tugasnya dengan baik. Menurunkan hujan.
Namun bukankah ini musim kemarau?
Ya, ini adalah musim kemarau dimana kering kerontang mulai menjalari hari-hariku yang pelan-pelan digerogoti sepi. Mikha’il – atau yang kausebut Michael sepertinya sedang beristirahat dari kerjanya menurunkan hujan – di hatiku.

Maka ketika pintu itu diketuk, akau hanya berteriak kesal. Bukan. Bukan Mikail yang datang mengetuk dengan sayap rupa-rupa cahaya. Hanya seseorang mengaku malaikat penjaga yang bahkan warna sayapnya pun tak putih sempurna. Broken white, katanya setelah kutanya.
Tidak. Sayapnya tidak sehalus sutra. Dan tak dibentangkannya pula lebar-lebar menuntut angkasa. Beberapa bulunya telah koyak dan luka. Lecet disana-sini. Guratannya masih dapat kau sentuh dan kau lihat. Sinar matanya meredup ketika aku mulai bertanya dengan gusar.

Ia terlihat amat lelah dengan wajah pucat yang menunduk pasrah. Kata-katanya singkat. Sangat singkat. Terputus-putus. Seringkali kami hanya larut dalam jeda. Diam.
Kerut di dahinya mulai hilang ketika aku mulai menyapanya. Senyumnya yang merekah malu-malu membuat ia seperti anak kucing lucu dengan mata berbinar, namun tetap gagah seperti singa.

Maka sejak itulah hujan-hujan kecil yang rintik perlahan mulai turun menetes di hatinya. Membasahi sudut-sudutnya yang kering, melindungi aku yang mulai bisa tertawa dan berlarian, memelukku dari dingin yang menusuk atau panas yang membakar.

Ia datang setiap hari. Setiap pagi mengetuk pintu hatiku dengan tersenyum manis. Rekah-rekahnya masih bisa kau lihat di ujung bibirnya saat ia mengucap namaku. Begitupun saat aku berusaha mengeja namanya, yang berasa hanyalah senyum paling manis yang bisa kuberikan padanya.

Mon ange gardien – my guardian angel.


Hari ini aku tidak beranjak kemanapun. Mengingat kembali sudah berapa lama blog ini tidak kusentuh. Lama sekali, ya? Ujian dan liburan benar-benar menyita waktu dan pikiran. Baik untuk belajar, maupun... bersenang-senang!

Aku bingung, darimana aku harus memulai. Dari pertemuanku dengan dia, ataukah dari hari-hari sebelumnya. Sepertinya harus mulai dari cream cheese. Hahaha.

Hari ini aku menyogok kalian dengan seloyang pizza. Hahaha. Kalian tahu, mungkin aku sedang ada maunya... Memang! Aku mau memperkenalkan seseorang kepada kalian. Namanya De Angelo. Dengan malu-malu aku membawanya ke rumah kami dan mempersilahkannya duduk di ruang tamu. Arco, Dimii, Luna, bahkan Sky menatapku bingung, namun beberapa lama kemudian mereka tersenyum...

Senyuman mereka, adalah doa yang paling baik di atas segalanya. Sambutan yang hangat, dengan cara mereka masing-masing....

De Angelo... Siapa dia? Dia adalah malaikat yang rela kehujanan. Dia adalah malaikat yang berani menentang hujan ketika hujan marah padanya. Ketika mungkin hujan melukai sayap-sayapnya sehingga tidak mampu kembali ke angkasa. Karena itulah, aku memilih untuk tinggal bersamanya kali ini, mengobati sayapnya yang luka dan koyak.

Malaikatku itu punya sayap yang sangat lebar, sehingga peluknya bisa menghangatkan aku di malam-malam terdingin sekalipun. Karena ia punya sayap, aku akan membiarkan dia terbang bebas kesana kemari, berputar dan pergi, karena aku percaya dalam harapanku yang kupikir tak akan sia-sia. Dia akan kembali, dan kami akan bertemu lagi. Saat hujan turun dan sayapnya yang basah terlalu berat untuk membawa tubuhnya terbang.

Sadarlah, Sayang. Aku tidak marah padamu. Tidak marah padanya. Tidak marah pada siapa-siapa. Hanya marah pada sikap. Hanya muak pada sikap yang tidak berubah padahal kau bukan lagi Hujan yang jatuh dengan bebas sekarang. Sudah ada yang menangkapmu. Bukan awan di langitku. Bukan pula tanah di bawah kakiku. Jauh lebih baik daripada itu. Jauh lebih baik. Seorang malaikat telah menengadahkan tangan menyambutmu.


Aku senang, Sayang. Senang akan senangmu dan senangnya. Bahagia untukmu dan untuknya. Dan akan tetap ada di sini jika kau membutuhkan uluran tangan, bantuan, pundak untuk menangis, atau telinga untuk didengarkan. Namun, tidak lagi pipi untuk dikecup, atau tubuh untuk dipeluk ketika berbaring bersisian denganmu. Tidak lagi. Aku tidak mau.

Aku akan tetap menjadi sahabatmu. Sahabat terbaikmu. Seperti janjiku padamu. Namun, seperti pula kata-kata yang telah berulang kali kuucapkan padamu, ketika kau telah move on dan resmi menjalin cerita dengan seseorang lain yang beruntung, aku tak mau lagi dipeluk-kecup olehmu. Kenapa? Bukan marah. Bukan kecewa. Hanya saja aku tidak mau menjadi sama seperti dia yang dulu membuat kisah kita terpaksa ku akhiri. Tidak ingin dianggap sebagai seseorang yang memiliki affair denganmu ketika kekasihmu sedang jauh. So sorry. Aku tidak ingin merendahkan diriku menjadi sama dengan orang yang hingga kini masih sangat aku benci itu.

Meski nama atau sebutan kita semua berbeda di dunia layar dan kabel listrik ini, person-nya tetap saja sama. Kamu, ya, kamu. Dia, ya, dia. Dan aku, ya, aku. Apapun nama kita, tidak mengubah fakta bahwa ada sebuah hubungan yang resmi terikat di antara kalian berdua dalam pertemuan kemarin. Sebuah ikatan yang telah lama kulihat dalam bayanganku, tidak peduli apakah ada keseriusan di dalamnya atau tidak.

Selamat, ya, Sayang. Selamat jadian untukmu dan dirinya.


Hujan dan De Angelo.


Dengan ini, mulai sekarang, tidak akan ada ucapan happy monthliversary dariku pada tanggal 26 dan/atau 27. Aku akan mengucapkannya. Untuk kalian. Pada tanggal 24. Setiap bulan kalian masih bersama. Diawali hari ini. Maaf, ya, telat sehari.


June 25th, 2010
5.22 P.M.


Aku pikir aku tidak akan menangis lagi. Tidak akan bisa lagi menangis. Setidaknya, tidak menangisi hal yang sama, lagi dan lagi, seperti hari-hari yang telah lama berganti.

Kesibukan memang membuat kita merasa seperti berada di Oblivion Castle dalam game Kingdom Hearts kesayanganmu. Membuat kita berpikir bahwa kita telah menjadi seseorang yang berbeda, bukan kita yang sebelumnya. Namun, begitu kesibukan berlalu, kita pun keluar dari kastil itu dengan menggunakan kunci dengan ekor berbentuk hati.

Dan di sinilah aku. Hanya ada aku dan kesendirianku. Dan semua ke-aku-an, yang sebelumnya begitu keras aku perjuangkan sejak lima bulan yang lalu, kini menyergapku dalam haru biru sentimental melayu. Apakah aku? Mengapa aku? Bagaimana selanjutnya aku?

Sesekali, aku memang rindu saat-saat sendiri. Aku pikir, mungkin di saat seperti inilah aku baru benar-benar bisa berpikir jernih. Mencoba terbuka dan jujur sepenuhnya. Kepada hati dan diriku sendiri.

Namun, di saat-saat seperti ini pula kenangan dan semua rasa yang telah lama ku tinggalkan kembali datang mengejar. Aku menangis malam ini dalam kesendirianku. Bukan sepi, bukan sunyi yang mengoyak hati, melainkan kenangan-kenangan yang ku pikir telah lama mati, atau setidaknya membuatku mati rasa terhadapnya. Aku menangis malam ini dalam renungku. Menyesali ini dan itu. Berharap banyak yang tidak terjadi dan tidak ku lakukan. From the start. From the very beginning.

Ribuan "Jika..." dan "Andai saja..." mengalir dalam pikir. Namun, tidak ada gunanya, bukan? Lagipula, yang aku sesali bukan kesendirianku saat ini. Bukan pilihan dan keputusanku saat ini. Melainkan yang telah lalu dan layu. Jadi, sudahlah. Mungkin aku hanya sedang ingin dan sedang butuh sedikit tangis malam ini.

Rain-Dear, sejujurnya aku memang masih mencintaimu. Namun, saat ini, aku sedang mencoba belajar mencintai diriku sendiri. Maafkan semua kata, sikap, dan sifatku yang menyakitimu.

Happy Belated 20th Monthliversary.

Dari aku yang ingin kamu terus melaju hingga memutari lajur rel mu.



June 1st, 2010
10.44 P.M.


Dua puluh. sudah dua, duapuluh bulan dan seperti dua lain yang bertengger mesra berdampingan seperti bebek yang berenang. Meski hujan dan kilat yang menghias langit, keras seperti tamparanku. Aku masih disini, bertahan untuk mnghapus semua harapan, harap-harap kecil yang diam ku musnahkan perlahan.

Lihatkah tanganku yang menjulur harap tak pernah sampai lagi ke langit gelap? Masih berharap perayaan dua puluh yang perlahan menggelinding dan hilang. Klasik. Untuk apa? Untuk dua puluh dan lebih lagi hal yang membuat aku bertahan dengan sejuta alasan, lebih dari 20 hal alasan aku bertahan, jauh lebih banyak dari 20 hal yang kamu berikan, 20 cinta dengan bentuk yang berbeda.


Aku ingin sekali mencoba beranjak, seperti kamar yang kini kutinggalkan. Aku pulang ke rumah, dengan semua koper berisi baju dan kotak-kotak sepatu, serta satu bungkus besar kenangan. Pindah, beranjak. Lucu, ya. Ini selalu menjadi hari spesial buatku. Tidak, tidak lagi, buatmu. Aku merasa bersyukur lebih baik. Lebih netral. Aww, memberi hati ruang dan kesempatan bagi diri sendiri. Bisa tidak ya?

Sudah 5 bulan setelah hari itu. Lama, lama sekali. Luka yang nganga sudah habis ditelan, racun ditenggak. Tidak tahu berapa luka sisa. Tapi berada di sampingmu adalah satu lagi, satu lagi alasan mengapa aku harus bersyukur sampai saat ini.

Happy 20th monthliversary, dear.

Senang. Itulah perasaan yang merayap dan kerap hinggap tiap kali melihat angka di visitor counter rumah ini menunjukkan bilangan yang semakin besar. Angka-angka itu semakin cepat bertambah di akhir tahun kemarin, hingga dalam sebulan rumah kami yang kecil ini dapat dikunjungi hingga sekitar seribu pembaca. Hebat. Nyaris tidak percaya.


Namun, angka itu menurun setelah aku putus dengan Hujan. Tidak dapat disangkal, salah satu faktornya mungkin karena aku sempat vakum menulis selama sekitar tiga bulan atau lebih. Meskipun demikian, setelah dicek lagi, angka itu bahkan sudah mulai menurun drastis sebelum aku vakum menulis. Mengapa bisa begitu, ya?

Ramainya tamu di rumah kecil ini mulai berkurang sejak aku mem-posting tulisan tentang salah satu pertengkaranku dengan Hujan yang diwarnai oleh kekerasan fisik. Popularitas rumah ini sebagai tempat persinggahan juga tampaknya semakin menurun setelah posting Kata-Kata Langit. Ada apa sebenarnya? Terkejutkah pembaca dengan sosok Sky saat itu? Shock-kah? Tidak suka?

Seorang teman online yang baik bahkan mengatakan bahwa aku dan Hujan berubah. Seolah bukan diri kami, katanya. Saat mendengar itu dari Hujan, aku hanya tertawa. Dapatkah orang mengenal aku ataupun Hujan dan merasa bahwa dia mengetahui mana diri kami "yang sebenarnya" hanya lewat tulisan yang selama ini di-post? Aku saja merasa belum mengenal diriku sepenuhnya hingga detik ini.

Ku akui, ini mungkin memang salahku sendiri. Sejak awal blog ini dibuat, yang aku atau Hujan tulis umumnya hanya mengenai betapa dekatnya aku dan Hujan, betapa saling sayangnya kami, betapa saling menjaganya kami, betapa saling cemburunya kami, dan hal-hal lain semacamnya. Setelah merenungi ulang apa yang kami isi di rumah mungil ini sejak kami tempati, aku merasa bahwa kesan Sky yang tercipta memang terlalu manis, terlalu baik, terlalu halus, dan terlalu-terlalu yang positif lainnya. Guardian angel, jika meminjam istilah Hujan. Padahal, aku tidak pernah bermaksud memberi kesan seperti itu.

Aku pikir, karena kesan itu, orang-orang mungkin lupa bahwa guardian angel ini pada dasarnya juga manusia. Tidak seratus persen baik. Sky sempurna sebagai manusia justru karena adanya sisi negatif di dalam dirinya (selain, tentu saja, kelesbianannya sendiri...^_^). Selain manis, baik, dan penuh kasih sayang, Sky juga bisa berubah temperamental, verbally & physically hostile, serta egois. Kekerasan verbal maupun fisik dalam pertengkaran antara aku dan Hujan bukan hanya terjadi sekali dua kali, dan aku tidak bangga mengakuinya. Hanya saja, aku pikir, orang perlu tahu, bahwa inilah aku. Mengapa? Orang-orang perlu tahu agar tidak salah membentuk image aku lagi dalam pikiran mereka. Agar tidak perlu ada lagi cermin image yang hancur berkeping-keping setelah di-publish-nya sebuah tulisan jujur dari hati.

Aku tidak ingin ada salah paham lagi. Aku bukan angel. Aku hanya manusia biasa yang mungkin memang bisa berusaha menjadi guardian angel satu atau dua orang. Aku punya tendensi untuk mencintai lebih dari satu orang dalam waktu yang sama, dan dapat menyatakannya secara terang-terangan. Akan tetapi, aku menolak untuk diperlakukan demikian oleh orang yang katanya mencintai aku, apalagi bila hal tersebut dilakukan secara diam-diam. Yes, My Friend. This is me, and I'm just trying to show you the real me. Hanya itu yang berusaha aku tunjukkan dan ceritakan secara jujur sejak awal aku mulai menulis lagi. Namun, mungkin itu pula yang membuat beberapa orang berpikir bahwa aku berubah.

Terlepas dari semua itu, rumah kecil ini tetaplah hanya media. Sebuah tempat singgah, dan sebuah medium katarsis. Pembaca, atau siapapun pengembara yang lewat, selalu memiliki hak untuk memilih dan mengkritisi.

Terima kasih, ya, untuk kalian semua yang merasa rumah kami ini layak untuk disinggahi. Jangan dirisaukan oleh penghuninya, ya. Seburuk atau secantik apapun rupa kami di hadapan kalian, rumah ini tetap terbuka untuk setiap tamu yang mengetuk dan memberi salam.


May 5th, 2010
00.18 P.M.


Blog ini adalah rumah. Yang catnya mengelupas seiring waktu, yang pilarnya goyah dihadang gempa. Rumah kami bukan istana megah para raja. Hanya rumah yang cukup nyaman untuk kami. Meski dengan kekurangan di sana-sini. Seperti inilah hidup. Lalu, apa tujuannya aku menulis posting ini? Tujuannya hanyalah... kembali menuliskan kehidupan nyata. Iya, nyata. Aku tau dan sadar, di tiap tulisan ada harapan yang terefleksikan kembali. Ada harap kecil, atau tanya yang disimpan dan dipertanyakan. Tapi inilah hidup. Hidup kami. Saat ini. Ada luka nganga yang memang harus dibiarkan kering lebih lama... Ada gigil yang harus dibiarkan bertahan... Blog kami selalu manis, dengan caranya. Blog ini manis, tanpa tambahan. Tanpa pemanis buatan.

Sakit sepertinya sedang menjadi trend akhir-akhir ini. Akhir minggu kemarin, maag kronis Hujan kembali kambuh. Selama beberapa hari dia tak henti meringis menahan lambung yang bergejolak kian bersemangat. Badannya pun kembali panas dingin tidak menentu. Aku sempat khawatir dia kena tifus lagi. Syukurlah, setelah sempat pulang ke rumahnya selama dua hari, dia bisa kembali menampakkan senyum cerah dan melompat-lompat riang seperti kangguru lagi sejak kemarin sore.


Namun, sekarang giliran Luna yang sakit. Sejak kemarin sore ketika kami menjemput Hujan di stasiun, dia tampak tidak enak badan. Malamnya, saat kami sedang mencoba pizza terbaru Pizza Hut, dia mulai mual. Segelas dilmah tea hangat ternyata tidak memberikan pengaruh apa-apa. Setelah menyantap satu slice Orientalia, dia malah kabur ke toilet dan memuntahkan kembali semuanya. Tadi malam, dia juga meringis-ringis sakit, mual, dan pusing. Satu butir Enzyplex dan dua sendok makan Mylanta cair tidak cukup untuk membuatnya berhenti menekan perut dan tidur. Baru setelah dia mengeluh sakit kepala dan aku memberinya satu tablet Paracetamol dia dapat tertidur. Akan tetapi, empat jam kemudian, dia sudah terbangun lagi karena sakit. Hingga pagi ini, dia masih terlihat pucat dan tidak nafsu makan karena masih mual. Aku dan Hujan tidak bisa menemani dan menyuapi makan karena dia harus field penelitian di sebuah sekolah sedangkan kami harus ke kampus. Agak khawatir. Mudah-mudahan keadaannya bisa cepat membaik.

Sekarang aku juga sedang merasa tidak enak badan. Entah terlalu lelah, entah karena sedang in my period sehingga kondisi tubuh menurun. Sepertinya dalam waktu dekat ini aku dapat terjangkit flu. Yah, mudah-mudahan tidak. Terlalu banyak tugas kuliah dan hal-hal lain yang perlu ditangani hingga UAS nanti. Lagipula, kalau aku sakit, siapa yang akan merawat dan memastikan Hujan dan Luna makan serta minum obat kalau mereka sakit lagi?

Sahabat Lingkar, hati-hati, ya. Jaga kondisi tubuh dan minum vitamin bila perlu supaya tidak rentan terhadap penyakit. Oh, ya, katanya empat hari ini matahari akan berada di titik terdekatnya dengan bumi. Temperatur bumi akan naik hingga 4 derajat Celcius. Risiko sakit, terutama pusing dan tebakar karena panas pasti meningkat. Jadi, sebelum keluar rumah usahakan usapkan lapisan sunblock ke permukaan kulit yang terbuka, ya. Usahakan juga untuk memakai topi dan sunglasses kalau keluar rumah.


Semoga semuanya bisa tetap sehat.


May 3rd, 2010
9.18 A.M.

In the living room